Wednesday, January 09, 2008

Harapan Tahun Baru dan "Cerminan" Tahun Lalu

HappyNewYear2008-1429_r

Menjelang tutup tahun di bulan Desember lalu, saya sudah sangat sangat ingin mem-posting (ugh, maafkan saya ya Pak! -- Dadang sensei a.k.a Dadang Oji-san-nya Zaza... beliau ini guru saya dan paling "marah" kalo saya pake' bahasa tulisan campur-campur dan tidak berdasarkan kaidah bahasa. Tapi kan pake' bahasa samba(rang) di blog ji Pak toh... bukanji di thesis *wink*) ucapan selamat tahun baru. Tapi karena berbagai kesibukan -- maksudnya banyak kesibukan dengan satu judul: Zahra Zahra Zahra (hee hee) -- tertunda terus sampe' kemudian dua hari lalu saya dan Zaza "tumbang" kena flu yang virusnya lagi "berpesta" di udara dinginnya Rockville.

Dan hari ini, pada saat adzan Maghrib tanggal 9 Januari yang bertepatan dengan 1 Muharram berkumandang, saya mengucap:

Alhamdulillaah... masih dikasih kesempatan sama Allah untuk bernafas di bumi-Nya. Alhamdulillaah... masih dikasih kesempatan membagi cinta dan kasih sayang dengan keluarga dan para sahabat. Alhamdulillaah...

Tidak terkira ucapan "Segala puji bagi Allah" atas nikmat yang diberikan-Nya kepada saya di tahun kemarin. Dengan tidak mengurangi rasa syukur dan menakar anugrah Allah, ada beberapa peristiwa di tahun 2007-1428 yang menjadi momen berharga yang ingin saya bagi:

  • 5 Februari 2007 - 17 Muharram 1428
    Saya jadi Bunda! Hari yang membuat saya merasa begitu sempurna... alhamdulillaah! Menjadi Ibunda adalah hal terindah dan merupakan mimpi yang menjadi nyata. Kehadiran Zahra Shirley Kearns membuka tahun ini dengan penuh rasa bahagia dan syukur tiada terkira... Hari lahir Zahra bertepatan juga dengan ulang tahun perkawinan Ayah Ibu-ku (Kakek dan Neneknya Zahra) yang ke-41! dan 9 hari lebih awal dari ulang tahun kakaknya, Iman, yang tepat berusia 10 tahun pada tanggal 14 Februari. It's gonna be a busy month (and an expensive one, too) karena kedua anak kami berulang tahun pada bulan yang sama, hehehehe.

  • 28 Februari 2007
    Tiga tahun lalu. Dari sini semuanya bermula...

  • 13 Maret 2007
    Di tengah kebahagiaan kami atas kehadiran si kecil, perusahaan tempat Ayahnya Zahra menjadi kuli tutup warung dan mengharuskan kami mencari "gig" baru untuk bekerja menghidupi kami sekeluarga. Masa peralihan dari pengangguran ke "kembali kerja lagi" sebenarnya tidak begitu berat, karena disini itu hal biasa (tidak seperti kalo di tanah air, dimana kita cenderung untuk setia dengan satu pekerjaan sampe' hari tua) dan lagi pasaran dan peluang untuk bidang keahlian David masih cukup bagus untuk saat ini. Yang bikin kami (terutama saya) nelangsa (dan marah) adalah kenyataan kalo gaji suamiku selama sebulan tidak dibayarkan padahal hampir setiap akhir pekan pun dia banting tulang kerja (jangan ditanya seringnya saya "protes")! Klo yang ini sih "cuma" bikin saya pasang muka kecut. Jangan ditanya kesal dan marahnya saya ketika tahu kalo asuransi kesehatan kami tidak dibayarkan pihak perusahaan sejak September 2006 -- yang mana akhirnya mereka lunasi cuma sampai akhir Januari!!! Artinya, semua urusan dengan kelahiran Zahra tidak ditanggung asuransi sama sekali. Astaghfirullaah... jadi kita harus bayar sekitar US$75,000 (mahal sekali yak? ini sudah termasuk biaya operasi dan tetek bengeknya serta rawat inap selama 4 malam) dari kantong pribadi??? begitu tanya saya ke David dengan mata melotot dan jantung hampir copot begitu dia beritahu saya berita menghebohkan itu. Padahal David masih tetap kerja sampai detik dia dengar kabar kalo perusahaan itu "membubarkan" pekerjanya. Jadi, gaji tak dibayar... asuransi tak dilunasi (padahal itu sudah pake' potong gaji pulak!). Are you kidding me??? Saya mencak-mencak, David cuma menghela nafas dan senyum (tapi pacce senyumnya, hee hee) sambil menenangkan bilang kalo dia akan bernegosiasi dengan pemilik perusahaan untuk paling tidak melunasi asuransi kesehatan tersebut sampai akhir Februari... bila tidak maka kami akan mengambil jalan hukum (Saya sering bercanda kalo lihat betapa orang Amerika sini sedikit-sedikit main tuntut secara hukum... never really thought that I would think of that, too!). "Bersama kesulitan ada kemudahan" begitu firman Allah yang kerap saya jadikan sandaran kalo lagi "diko'bi'" (Bahasa Makassar = dicolek) sayang sama Allah :). Alhamdulillaah... pada akhirnya urusan asuransi beres dan kami tidak bayar sepeserpun segala biaya kelahiran Zahra. Meskipun demikian, gaji David tetap tidak dibayarkan. alasan (si mantan boss)nya klasik: mo dibayar pake' apa... perusahaan tidak punya uang lagi. Lah ya bilang dong sejak awal... masa' terkesan memeras keringat pekerja tapi di akhir-akhir malah lepas tangan??? *korokoroang mode on*. Dan meski suamiku yang (menurutku kadang terlalu) baik hati itu sudah mengikhlaskan, kalo ingat itu saya jadi kesal dan korokoroang sendiri. Oh iya, pada saat Zahra lahir, si boss sempat bertandang ke rumah dan membawa bingkisan dua pasang baju untuk bayi kami (waktu itu blum diumumkan kalo perusahaan bakal tutup warung). Setiap kali Zahra memakai baju itu, saya sambil bercanda (pahit) bilang kalo baju itu adalah baju bayi termahal... karena harganya sama dengan gaji Ayahnya Zahra selama sebulan! hehehe. Sekarang sudah bisa dijadikan bahan canda tanpa disertai kening berkerut. Tapi jangan ditanya waktu tahun lalu itu... kalo disinggung sedikit saya pasti meradang lagi. Untuk alasan ini juga saya sampai tidak menulis ini secara detail -- meski sempat "curhat" di sini.

    Let it go, kata David. Betul juga... Allah bersama orang-orang yang bersabar. Buktinya, hanya 12 hari setelah resmi menganggur, David sudah mendapatkan pekerjaan baru lagi. Sebenarnya sih bukan "baru", karena perusahaan ini sudah memakai jasa David selama bertahun-tahun sebagai pegawai paruh-waktu yang dibayar perjam-nya. Salah satu alasan dia menerima tawaran ini (disamping beberapa tawaran lain yang akhirnya dia tolak) selain karena dia kenal betul secara profesional maupun pribadi sang pemilik perusahaan adalah karena pekerjaan ini membolehkan dia bekerja di rumah yang allows him to spend as much as time with me and his daughters dan juga tidak akan ada lagi alasan untuk tidak sholat tepat waktu dan tidak menghadiri sholat Jumat (yang pada pekerjaannya yang sudah almarhum itu sering sekali bertepatan dengan acara lunch meeting dengan klien, dsb). Saya jadi sangat terharu pada saat suamiku memberikan alasan tersebut sewaktu kami mendiskusikan pros dan cons-nya beberapa tawaran pekerjaan yang mungkin dia terima. Alhamdulillaah... sejak resmi bekerja tanggal 1 April 2007, sampe sekarang David sangat senang dan bahagia dengan pekerjaan barunya. I love my new job, katanya. Alhamdulillaah...

  • 17 Maret dan 10 Juni
    Ulang tahun David yang ke-38 dan ke-37 buatku. Alhamdulillaah...

  • 5 Juni
    Dua tahun sudah sejak pertamakali menginjakkan kaki di negerinya Mr. Washington. Itu artinya, Conditional Permanent Resident Card alias kartu hijau alias greencard-ku habis masa berlakunya. Proses untuk mendapatkan Permanent Resident Card yang berlaku 10 tahun dimulai sejak akhir Mei dan tidak sampai 6 bulan setelah itu, kartu tersebut sudah ada di tanganku. Urusan GC selesai... Alhamdulillaah! Paling tidak, selama 10 tahun ke depan saya tidak akan berurusan dengan imigrasi masalah status tinggal di sini.

  • 17 Agustus dan 28 September
    Ulang tahun Ibu ku tercinta yang ke-63 dan ulang tahun Ayah yang ke-64. Ulang tahun Ibu sangat istimewa karena bertepatan dengan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang kami rayakan dengan menghadiri upacara bendera di KBRI Washington DC. Dan untuk pertamakalinya di rumah kecil kami di Rockville, bendera merah putih berkibar dengan cantiknya! I am a proud Indonesian... and always will be...

  • 5 September
    Tiga tahun sudah kami bersama... insya Allah sampai maut menjemput (dan bersama lagi kelak di akhirat, Aamiin!).

  • 6 Oktober - 29 Oktober
    Setelah dua tahun lebih, akhirnya bisa melepaskan rindu ketemu orang-orang tercinta di tanah kelahiranku: Ibu, Ayah, Kak Ina sekeluarga, Kak Ida sekeluarga, Yani, Henny, dan Attong lagi... Juga Ambo' dan Indo' di Sidrap dan keluarga serta kerabat dan sahabat di Sidrap, Pinrang, dan Makassar. Only one missing: Kolé'! Dua hari sebelum saya tiba, Kole berangkat untuk melanjutkan sekolah (PhD program) di Graduate School of IDEC, Hiroshima Daigaku (Hiroshima University), Jepang.

    Foto Keluarga Yasir 2007

    Untuk lebih detail tentang foto di atas, klik DI SINI

    Rencana terbesar dari pulkam ini selain melepas rindu adalah bikin foto keluarga. Terakhir kali kami berfoto bersama lengkap (pada saat itu) kalo tidak salah 10 tahun lalu pada saat cucu Ibu dan Ayah yang terkecil adalah Nabila (Lala). Memang, sejak tahun 1997 itu boleh dibilang kami bersaudara tidak pernah "berhasil" kumpul di Makassar dalam satu waktu. Ada saja di antara kami yang bermukim di luar. Tahun 1993-1995, Kak Ina berangkat sekolah ke Wales, UK. Pulang-pulang bawa bayi kemudian pergi lagi... dan setelah sekolahnya selesai doi lanjut bawa si kecil Imma mengikuti Kak Khae yang sekolah di Adelaide (Australia Selatan). Saat mereka akhirnya balik kembali ke Makassar, Kak Ida yang "missing" karena mengikuti Kakak Lallang suaminya yang bertugas di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pertengahan tahun 1999, giliran saya yang "hilang" dari Makassar karena "merantau" ke Toronto sampai akhirnya balik kampung di bulan November 2001. Pada saat itu, semua boleh dibilang kumpul karena pada awal 2001 Kak Ida sekeluarga akhirnya minta mutasi ke Makassar dan dikabulkan. Tapi "kumpul-kumpul" ini tidak berlangsung lama. Karena awal 2002 Kak Ina kembali melanjutkan sekolah kali ini ke Adelaide (tempat Kak Khae dulu sekolah) dan membawa 3 kurcaci yang baru saja melepaskan rindu dengan Tante Yaty-nya yang baru saja kembali dari Canada. Dan tentu saja, tahun 2005 (setahun sebelum Kak Ina menyelesaikan sekolahnya dan sekeluarga kembali ke Makassar) saya meninggalkan Makassar "merantau" mengikuti cinta ke negara ini. *whew* Panjang betul kan kronologis "tak bisa kumpul"nya??? And now that everyone's in Makassar at the time I and David planned to pulkam, Kole' yang ke Jepang -- juga untuk melanjutkan sekolah. Tidak heran kalo Ibu sempat mengeluarkan kata-kata bernada kecewa: "Tidak bisanya di' kita kumpul semua" (= Kok ya ndak bisa kumpul semua). Beliau memang sempat agak "down" begitu tahu kalo Kole tidak bisa menunda keberangkatannya ke Jepang untuk menunggu saya, sampai keluarlah kata-kata di atas. Padahal Ibuku ini orang yang paling optimis dan selalu mendukung dan bahagia kalo kami dapat kesempatan beasiswa sekolah ke luar negeri. Tapi kemudian beliau bilang lagi: "Tapi kan untuk kebaikan... ya ndak papa... biar jauh tapi terasa kita selalu dekat." Now that's my Ibu! Selalu bijak dan bersyukur dengan anugerah yang Allah berikan kepada keluarga besar kami.

    Lanjut cerita tentang foto di atas. Meski tak berada di Makassar, Kole ikutan nampang di foto. Hee hee... thanks to technology! Kami berhasil minta ke pihak foto studio untuk "menyisipkan" Kole disitu. Hasilnya cukup bagus... at least ada bahan hiburan bagi Ibu dan Ayah melihat kami semua bisa kumpul bersama. Alhamdulillaah...

    Pulkam juga bawa kebahagiaan tersendiri bagiku karena berhasil memenuhi janji untuk datang mengunjungi Ambo' (ayahnya Ayahku) di Tanete Allakuang, Sidrap. Tahun ini beliau berusia 84 tahun dan sebelum kami bertolak pulkam sempat masuk RS karena serangan jantung ringan, yang bikin saya sangat khawatir dengan kesehatan beliau. Akhir Mei 2005 sebelum saya tinggalkan Makassar, Ambo' sempat tanya: Kapan Yaty pulang? Saya bilang (dengan pasti): insya Allah tahun 2007, Ambo'. Sehat-sehat ki' nah... nanti saya bawakanki' appo uttu ta' (Bahasa Bugis: appo uttu = cicit). Padahal waktu itu mana tahu kalo saya akan jadi Bunda pada saat pulkam? Beliau jawab lagi: "Insya Allah, saya berdoa ke Allah untuk diberi umur dan waktu ketemu Yaty dan appo uttu 2 tahun lagi!" Alhamdulillaah... Allah mengabulkan doa beliau dan saya... dan saya "menepati" janji bisa pulang dan membawakan Ambo' si appo uttu-nya yang beliau tunggu-tunggu selama 2 tahun ini.

    Weh, kalo cerita pulkam bisa jadi "surat kabar" ini postingan. Pending dulu nah... kapan-kapan pi saya cerita yang lebih lengkap dan detail... terutama pengalaman membawa bayi Zahra berjalan jauh antar benua. Mungkin nanti ceritanya di Catatan Harian Ibunda. Speaking of which... sudah banyak sekali postingan di sana yang masih saya pending dan berstatus "draft" karena sulit sekali menyelesaikan cerita yang terpotong di tengah-tengah karena si nona kecil minta TLC dari Bundanya, hehehehe. Tapi meskipun masih berstatus "draft", tetap saja semua perkembangan Zahra saya catat di situ. Hopefully, some time soon bisa saya publish untuk dibagi ke yang mo membacanya.

    Foto-foto selama pulkam dapat dilihat di Flickr-ku dan Flickr-nya David. "Judul" pulkam pertama ini kalo dilihat dari foto-foto kami: Zahra, hehehe. Semua orang mo berfoto dan rebutan menggendong dan bermain dengan Zaza. Alhamdulillaah, Zahra enjoyed sekali jadi pusat perhatian dan selebritis selama di Makassar. Dan untuk pertamakalinya sejak ada Zahra, saya dan David bisa keluar berdua meninggalkan Zahra dijaga tante Ina dan tante Yani-nya. Awalnya saya khawatir karena kemanapun saya pergi, Zahra selalu saya bawa (jangan tanya kalo ke toilet... sudah tidak terhitung dia ikut saya bawa karena tidak ada yang jaga di luar -- terutama kalo kami di tempat umum seperti waktu ke museum beberapa waktu lalu dan kami cuma berdua). Ternyata, ditinggal lebih dari 3 jam pun Zahra tetap adem. Kalo menurut Kak Ina dan tante Yani serta Nenek dan Kakeknya, Zahra anak yang gampang ngurusnya... hampir ndak pernah rewel dan selalu tersenyum dan mudah diajak bermain. Karena itu mi juga, orang-orang tercinta tersebut rindu sekali pada Zahra setelah kami kembali ke Rockville. Ah...

    Yang jelas, acara pulkam jadi momen yang sangat membahagiakan. Rasanya 3 minggu tidak cukup untuk melepaskan semua kerinduan kepada orang-orang tercinta, sahabat, dan kerabat... juga makanan ala kota Makassar-ku yang sering bikin saya termimpi-mimpi. Insya Allah, kalo ada kesempatan dan umur panjang, kami berencana untuk pulkam lagi 2 atau 3 tahun mendatang. Yang pasti harus nabung lagi... siapa tahu kali berikut kami pulang juga membawa serta Iman dan adik(adik)nya Zahra??? Hehehe.

  • Ramadhan 1428 Hijriyyah
    Tak berbeda dengan Ramadhan lalu, kali ini kami lalui dengan penuh sukacita dan rasa bahagia. Terlebih lagi, ini adalah Ramadhan pertama ada Zahra, dan juga yang pertama bagi Iman untuk menjalaninya sebagai suatu kewajiban (bukan latihan lagi). Alhamdulillaah! Saya juga merasa sangat puas karena sejak awal tahun -- pada saat dia menghabiskan liburan musim semi (spring break) selama 3 minggu dengan kami di Rockville -- sebelum dia resmi "wajib" menjalankan ibadah sholat dan puasa, saya sudah tuntas mengajarkan semua bacaan sholat lengkap untuk dia hafal dan praktekkan. Terakhir itu bacaan "tahiyyat" yang cukup panjang... ditambah beberapa surah-surah pendek lengkap dengan arti dan maknanya. Juga saya ajarkan beberapa tatacara untuk membersihkan diri sebagai seorang yang sudah baliq. Harapanku, dia bisa jadi anak yang shalihah... dan kelak bisa jadi panutan bagi adik-adiknya nanti, insya Allah!!! Aaamiiin!!!

    Dua hari terakhir di bulan mulia ini, kami berada di Makassar. Hari pertama di Makassar betapa bahagianya kami berbuka puasa (saya batal puasa hari itu, sedangkan David lanjut terus!) bersama keluarga besar (inti) Muhammad Yasir Baeda. Lepas sholat Maghrib berjamaah (ah, merdunya dengar suara Ayah jadi imam!), Ibu membagikan hadiah kepada para cucu atas usaha mereka berpuasa termasuk Ririn a.k.a Iin yang berusia 7 tahun! semua berpuasa penuh tanpa ada kalahnya (kecuali yang batal karena haid tentunya) dan mereka ber-tadarrus Al-Quran. Ibu memang menjadikan tradisi bagi cucu-cucunya untuk mendorong mereka "berlomba" menamatkan Quran selama bulan Ramadhan. Tahun lalu, Imma (cucu Ibu Ayah yang tertua) berhasil khatam Quran selama bulan Ramadhan... entah kali ini tidak berhasil memenuhi targetnya seperti tahun lalu. But anyways, every grandchildren dapat hadiah dari Nenek dan Kakek. Zahra pun dapat sajadah cantik. Insya Allah bisa dia gunakan sesegera mungkin...

    "Kalah" puasaku kali ini cuma 4 karena selama perjalanan pulkam dari USA ke Makassar, saya tidak berpuasa... dan si "tamu bulanan" yang memang sejak saya ber-KB jadi jarang-jarang berkunjung kali ini memutuskan untuk tidak datang selama Ramadhan. Yay!!! Paling tidak ini memudahkan saya nantinya untuk membayar utang puasa kali ini, hehehe.


Rasanya masih banyak yang ingin saya cerita tentang bulan 2007 yang penuh berkah bagiku dan keluarga. Tapi itupun sudah panjang sekali (hehehe... yang bertahan membaca: makasih sudah menyempatkan... ) dan mungkin membosankan. Tapi biarmi deh... soalnya menghitung berkah itu sulit sekali saking banyak dan melimpahnya... Alhamdulillaah... segala puji bagi Sang Empu-nya Hidup...

2007 dan 1428 penuh berkah berakhir sudah. Harapanku di tahun 2008 dan 1429? Sama di tahun-tahun sebelumnya, saya berharap untuk menjadi Hamba Allah yang lebih baik, makin sayang dan disayang oleh-Nya, jadi pendamping yang setia dan penuh kasih sayang kepada suamiku tercinta dan Bunda yang bisa membawa anak-anak kami kelak jadi insan yang shalih/ah. Selain "visi" yang tetap setiap tahunnya itu, untuk tahun baru ini, saya punya harapan-harapan dalam doa kepada Allah untuk:

  • Menunaikan ibadah haji dan mulai menabung untuk beli rumah.
    Alhamdulillaah karena awal tahun ini segala debt yang membuat saya dan David harus menyisihkan sebundel duit setiap bulannya akan tuntas terbayar, insya Allah. Begitulah resiko punya banyak kartu kredit (KK), gesek terus... ujung-ujungnya utang menumpuk bikin kurus, hehehe. Beruntunglah dia punya isteri kayak saya yang tidak suka yang namanya KK *wink*. Memang saya termasuk yang rada kolot untuk urusan begini... saya tidak suka berutang. Bila ingin sesuatu, tak apa bersabar nabung dulu daripada merasa terkejar karena utang. Kalopun berutang, ya paling sama Kak Ina, Kak Ida... dan paling sering sama Ayah dan Ibu, hehehe.

    Karena sudah terbebas dari utang dari "kehidupan" David yang dulu, kami berniat untuk mulai menabung untuk pergi berhaji ke Makkah dan menyisihkan duit untuk DP rumah. Selama ini kami memang masih menyewa (rumah) -- sambil menunggu debt lunas dan research serta browsing mencari agen yang bisa kami membeli/menyicil rumah dengan cara Islami untuk menghindari riba (bunga uang). Tapi kayaknya kalo melihat skala prioritas, kami berdua sangat ingin bisa berhaji tahun ini. Ah... sudah kayak mimpi rasanya mo dan menapaktilas perjalanan Bapak Para Nabi, Ibrahim a.s. dan berziarah ke Haramain mengunjungi Ka'bah dan Kota Nabi. Kalo jadi (doakan nah...) kami akan pergi bertiga -- membawa Zahra ikut serta (klo ndak dibawa mo dititip sama siapa anakku??? dan kalopun ada yang bersedia menjaga, saya ndak tega. Maunya kalo bisa, dititip di Makassar... tapi jauhnya moooo). Aamiin... Aamiin!!!

  • Program untuk nambah anggota dalam keluarga kecil kami: mo kasih adek buat Zahra dan Iman. Sebenarnya saya masih punya 2 tahun lagi untuk program ini karena dokterku sudah kasih "warning" kalo masih berniat nambah anak, lebih baik sebelum "kepala empat", hehehe (iya deh, Bu Dokter...). Dan kalo dipikir bagus juga kalo usia Zaza tidak begitu jauh dengan adiknya nanti insya Allah... bisa jadi teman mainnya (dan juga teman bakalai, hahaha!!!) dan ada teman untuk bertumbuh bersama.

Sudah mi deh... ndak mo ka' muluk-muluk dan terlalu banyak "resolusi". Itu pun rasanya yang 3 di atas sudah terlalu ambisius. Oh well, dengan berusaha dan berdoa insya Allah paling tidak salah satu bisa terlaksana. Doakan ya...

Oh my... mungkin ini posting terpanjang yang pernah saya tulis di blog! Tahun baru, semangat baru untuk lebih baik di tahun kemarin. Semoga demikian juga dengan orang-orang tercintaku, sahabat, karib dan kerabat, serta teman sekeluarga. Semoga kasih sayang Allah senantiasa menyelimuti hati, damai dan keselamatan beserta anda semua... Aamiin!

*******

P.S. Postingan ini saya mulai tulis persis di hari pertama tahun baru Hijriyyah; yang terpanjang dan terlama saya tulis, dan baru sempat di-publish setelah bulan Januari hampir berlalu. Harapan dan doa tak pernah "basi", lebih baik di-posting daripada tidak sama sekali... *wink*

2 comments:

Anonymous said...

Hallo Yati... selamat yach tak terasa Zahra telah berulang tahun yang pertama. Cepatnya di! How's life there? Gimana sudah sembuh yach dari pilek..aduh kasihan si Zahra ya..apa dia juga dapat demam? Anak kecil itu cepat naik/turun temperaturnya. Yang penting kalo dia angat kasih minum air supaya tidak dehydrasi ya.
Salam dari kami semua di Belanda. With love Della en familie

Herning Grissom said...

Yati, it's a really lovely diary that you had wrote. You really have wonderful family, also family in Makassar (e..de..de pintar-2nya di kalian sekeluarga) David really lucky to have you as a wife, such as a humble,smart,and toughtful wife. Wishing you all the best in 2008, may your dream to go to Mekah will come true. BTW, I will be happy take care Zahra, she is a cute and lovely baby. Lastiann will really enjoys to have her around. Sorry I missed you during your visit to Northern CA. May we meet in Seatle then?
Love,
mbak herning