Sunday, October 22, 2006

Cerita Ramadhan

Ini bukan ceritanya si Ramadhan (hee hee), tapi ceritaku -- cerita Yaty -- tentang Ramadhan.

Besok lebaran... artinya tinggal beberapa jam lagi yang namanya bulan puasa, bulan Ramadhan akan berlalu. Sedih? Tentu saja. Bukan bulan puasa saja kalo dengar lagunya Bimbo "Setiap Habis Ramadhan", mata jadi buram karena airmata... alias maccilé (Bugis = mengalir) alias jadi cengeng lagi *hiks*.

Setiap habis Ramadhan...
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, tak terhingga nilai mahalnya...

Setiap habis Ramadhan...
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan...

Setiap habis Ramadhan...
Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi, berilah hamba kesempatan...


*****************

Pindah ke Rockville membawa banyak berkah... dan sejak kami menetap di ibukota Montgomery County ini, senyum rasanya selalu tertoreh di hati dan bibirku *alhamdulillaah*. Bukan cuma rasa nyaman dan aman dengan rumah kecilku, bukan cuma karena perasaan sebagai Ibu semakin menguat dengan merasakan setiap gerakan si kecil dalam rahimku, bukan cuma karena pertautan hatiku dan Ayah anakku terasa semakin kuat, tapi juga karena di Rockville ini saya merasakan menjadi bagian dari komunitas muslim yang sama sekali tidak saya dapatkan selama setahun lebih tinggal di Alexandria. Terlebih lagi merasakan dan berbagi suasana Ramadhan bersama saudara-saudara muslim Indonesia di tanah yang begitu jauuuuh dari kampung halaman... sungguh suatu nikmat dan berkah yang diberikan Allah kepadaku dan keluarga kecilku.

Berikut adalah cerita panjangku, tentang Ramadhan yang selalu dirindu... dan yang sebentar lagi usai...

*****************

Madrasah

Setiap hari Minggu jam 3 sore, saya dan Iman diantar Daeng ke Tilden Middle School di Bethesda (kota tetangga-nya Rockville) sekitar 10 menit dari rumah, yang merupakan lokasi madrasah yang diselenggarakan oleh IMAAM. Disini, anak-anak -- mulai dari yang usia pre-K sampai remaja/teenagers dalam komunitas IMAAM belajar membaca Quran (menggunakan metode Iqra') dan juga pengetahuan Islam (Islamic Knowledge). Alhamdulillaah... meski jauh dari tanah air dan tinggal di negara yang suara adzan dari masjid pun tak pernah terdengar, semangat untuk belajar dan menjadi muslim yang baik begitu terasa disini. Yang serunya lagi... anak-anak di madrasah ini hampir sudah tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar meski raut muka 100% melayu (meski tak sedikit juga yang sudah "muka campuran" karena berasal dari ayah-ibu yang mixed-couple), sehingga bahasa pengantar yang dipakai untuk mengajar adalah bahasa Inggris. Alhamdulillaah... dengan adanya madrasah ini, Iman mulai belajar membaca Quran dan pengetahuan Islam -- yang tentu saja tidak akan mungkin dia dapatkan di sekolahnya -- dan juga belajar untuk merasakan menjadi bagian dari masyarakat muslim yang boleh dibilang minoritas disini. Sebenarnya, sudah sejak saya tiba di sini setahun lebih yang lalu, saya sudah "merengek" ke David (sampai kadang terkesan memaksa) untuk mencarikan dan memasukkan Iman ke Islamic Sunday School. Bahkan sudah beberapa kali saya utarakan betapa pentingnya pengetahuan tentang Islam buat Iman, baik kepada Baba maupun ibunya. Tapi selama itu, tidak pernah berhasil... dengan berbagai alasan yang berbeda. Akhirnya, selama setahun lebih itu, semua tergantung saya *sigh*. Mulai dari belajar membaca "bismillaah", wudhu, tata cara dan bacaan sholat, puasa, semua saya ajarkan dari nol kepada anakku itu.

Alhamdulillaah... meski penuh "perjuangan" (saya maksudkan, betul-betul PERJUANGAN!), sekarang Iman sudah tertib sholat lima waktu. Ramadhan yang lalu pun "kalla" (bukan Pak Hadji Kalla! hehehe. Ini bahasa Bugis/Makassar yang artinya "batal puasa") nya cuma 3 hari. Iman anak yang baik dan mau mendengarkan kata... asalkan dia selalu dan tidak bosannya kita meng-encourage agar dia tetap istiqomah. Sayangnya, tahun ini sejak dia tidak tinggal dengan kita lagi, dia sudah tidak bisa menghitung berapa hari puasa yang dia tinggalkan. Saya dan Ayahnya cukup kecewa... mengingat seharusnya dia bertambah baik dibanding tahun lalu. Tapi apa lah hendak dikata? Kami berdua hanya "dapat"kan dia di akhir pekan... Selebihnya, semua diluar kontrol kami. Meski dengan agak putus asa, saya jelaskan ke dia kalo dia seharusnya lebih bisa "bertahan"... apalagi tahun depan kelak insya Allah, kami yakin kalo dia sudah akan WAJIB untuk berpuasa. Paling tidak, hari yang dia tinggalkan harus dia ingat untuk menggantinya di luar Ramadhan. Ah....

Kembali ke madrasah. Hari pertama dia di madrasah, Iman sudah sangat terkesan... bahkan sangat bersemangat untuk datang lagi minggu depannya. I can't wait to go to madrasah again... they're sooooo cooooool!!! begitu katanya dengan mata berbinar-binar dalam perjalanan kami mengantarnya kembali ke rumah ibunya di Alexandria selepas sholat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama ratusan warga IMAAM. Saya dan David hanya tersenyum-senyum... sambil terus mendengar ocehannya tentang apa yang dia pelajari di hari pertamanya di madrasah, dan berusaha menghafalkan ikrar dan doa sebelum belajar yang dia dapatkan hari itu:

"rodhiytu billaahi rabban... wa bil Islami diynan... wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasuulan..."

Suasana dan semangat di madrasah ini mengingatkan saya akan masa-masa saya dan adik-adik (Yani dan Kole) "mengaji" di madrasah Masjid Ikhtiar Kampus Unhas Baraya awal tahun 80-an. Guru-guru -- yang di dalam kelas kami panggil "ustadz" dan "ustadzah", tapi kalo di luar kelas kami memanggil mereka dengan sebutan "kakak" -- kami waktu itu semua masih mahasiswa (sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Hasanuddin dari berbagai fakultas, mulai dari Fakultas Pertanian, Kedokteran, SosPol, Teknik, sampe' Sastra; dan beberapa dari IAIN Alauddin Ujungpandang waktu itu). Berbeda dengan madrasah IMAAM yang penyelenggaraannya sekali seminggu, madrasah Ikhtiar dulu mengajinya setiap hari kecuali hari Jumat, antara waktu Maghrib sampai 'Isya. Waktunya sangat singkat memang... tapi sangat berkualitas! Materi yang diajarkan oleh ustadz/ah kami berbeda setiap harinya: Makhraj dan Ilmu Tajwid, Dasar-Dasar Pengetahuan Islam, Bahasa Arab, Tadarrus (membaca cepat tapi dengan tajwid dan tartiyl), Sejarah Islam, sampai pada membaca Al-Quran dengan indah (tilawah al-Quran). Saya sangat beruntung karena guru-guruku dulu sangat "pakar" di bidangnya. Jangan salah... kalo kami berkunjung ke asramanya "kakak-kakak"ku ini yang ada di sekitar masjid, jarang sekali dapat buku tentang agama... yang ada adalah text books-nya mahasiswa yang tebal-tebal kayak bantal! Jadi ingat buku anatomi-nya Kak Gaffar -- sekarang Dr. Abd. Gaffar, dokter teladannya Luwuk Banggai! atau buku SosPol-nya Kak Juraid -- sekarang DR. Juraid Abd. Latief -- ini guru tajwid saya --, dosen seniornya Univ. Tadulako Palu... atau buku hortikultura-nya Kak Ancu' -- Ir. Syamsur Faisal. Trus, ingat sama Kak Atik guru bahasa Arab kami yang "sekke'" (Bugis/Makassar = kejam, hehehe) karena kami bakal kena hukuman kalo tidak menghafalkan vocabulary yang sudah beliau ajarkan minggu sebelumnya. Kak Atik ini sekarang adalah "orang langka" di Sulawesi Selatan... beliau adalah doktor perempuan peneliti/anthropolog adat istiadat Bugis. Wow!!! Bangganya saya bahwa mereka semua ini adalah guru-guru saya (catatan: tidak ada istilah "bekas guru"!) yang menorehkan segudang pengetahuan yang saya junjung dan pegang sampai ajal menjemput, insya Allah! Blum lagi, guru-guru tadarrus dan tilawah yang pada waktu itu adalah qori' qori'ah ternama Sulawesi Selatan. Imam Masjid Raya Makassar sekarang, Asrar Abuckhaer adalah salah satu dari mereka. Kalo Kak Asrar memimpin sholat (jadi imam)... masya Allaaahh... cantiknya bacaan dan indahnya lantunan lagu beliau! Serasa beratus rakaat pun jadi terasa ringan kalo Kak Asrar jadi imamnya.

Waktu yang padat sepulang sekolah, trus latihan olahraga (karate) sorenya, dan kemudian balik lagi ke rumah mandi dan bersiap jalan kaki kurang lebih 2 km bolak-balik dari rumah ke Masjid Ikhtiar bagaikan tidak terasa selama saya "mengaji" di sana. Semangat dan kegembiraan menimba ilmu di madrasah seperti yang saya lihat pada Iman membangkitkan kenangan dengan madrasahku dulu. Semoga begitu selamanya... tidak cuma Ramadhan ini...

*****************

Sahur dan Buka Puasa

Tahun ini sangat beda dengan tahun lalu... mostly karena waktu lebih banyak saya dan David habiskan berdua saja karena (sebagaimana sudah saya cerita di atas) Iman hanya kami "dapat" setiap akhir pekan. Alarm HP saya setél jam 4:15 - 4:45 (mundur terus sejalan dengan mundurnya waktu imsak/subuh)... alhamdulillaah tidak pernah ada kesulitan untuk bangun. Ndak tahu kenapa... tahun ini sangat beda dengan tahun lalu. Ramadhan kali ini saya sangat bersemangat untuk bangun sholat malam/layl, rasanya ada yang jadi pemompa semangat alias cheerleader (hehehe)... mungkin si Junior ya?

Habis sholat malam, saya siapkan sahur ala bulé buat si Daeng, dan ala warteg buat saya, hehehe. Namanya juga perut Melayu... mana tahaaaaaan kalo cuma makan toast/roti dan cereal? Mesti nasi lah yauww!!! hahahahaha! Kalo Iman ada dengan kami, jadilah menu sahur ada 3 jenis: ala bulé dewasa, bulé anak-anak, dan ala Melayu! Alhamdulillaah, kami tidak pernah kesiangan sahur, David dibangunkan alarm-nya sendiri... dan kemudian doi yang punya tugas membangunkan Iman. Biasanya setelah sahur, sambil menunggu waktu subuh kami cerita-cerita, kadang berdiskusi (mulai yang ringan sampe' yang seru pake' beradu-argumen, hehehehe), ataupun sekedar bercanda dan catching up terutama dengan Iman yang menceritakan hari-harinya di sekolah pada saat dia tidak dengan kami. Setelah waktu subuh masuk, baru deh kami sholat subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan baleeeeeeeeek kanan tidur lagi! Tapi itu "berlaku" hanya untuk Daeng dan Iman... soalnya pengalaman kalo saya ikutan juga tidur dalam keadaan perut masih penuh, dijamin heartburn-ku kambuh. Aneh juga ya... seumur-umur saya paling jaraaaaaaaaaang kena yang namanya heartburn, nanti setelah hamil masuk 20 minggu-an baru deh terasa. Tapi ada bagusnya juga, karena waktu antara habis subuh sampe' sekitar jam 9 pagi (kurang lebih 3 jam setelah sahur) saya gunakan untuk tadarrus dan membaca (terjemahan) Al-Quran. Naaaah, setelah itu... baru saya ambil "jatah" tidur sampai jam 11 atau sampai waktu Dhuhr tiba ;).

Alhamdulillaah... tadi subuh, sehari sebelum Ramadhan usai, saya khatam Quran (again, tahun ini lebih banyak berkah dari tahun lalu... Ramadhan lalu saya hanya sampe' setengahnya *sigh*). Jadi ingat rumah di Makassar... semua "berlomba" untuk khatam Quran. Dulu-dulu, saya dan Ibu yang bersaing... sejak lima tahun belakangan tambah deh kompetitor: Ayah (setelah beliau pensiun, jadi ndak mikir kantor lagi... jadi ngajinya plus hafalan surah beliau jadi lancaaaaaaaaar!!!). Trus ada juga Yani... dan Kolé (yang akhir-akhir ini yakin ka' ndak sempat ki khatam... soalnya doi sibuuuuuuuuuuk teruuuuuuuuus... mengejar setoran. Eh, sopir bajaj kapang di'?! hehehe). Tadi telepon ke Ibu, dapat informasi kalo Khaerina Fathimah alias Imma (anaknya Kak Ina -- sekarang 12 tahun) juga khatam Quran selama Ramadhan ini... subhanallaah!!! "anakku" itu sudah bisa khatam seperti Tante Yaty-nya! Trus, saya bercanda ke Ibu bilang: eh Bu, ini Junior tawwa juga khatam Quran selama Ramadhan... kan Junior juga ikutan mengaji/tadarrus dengan Ibunya (a.k.a saya ;) ), hehehehe.

Berkah lainnya yang lain dari tahun lalu adalah saya dan David selalu bisa sholat berjamaah setiap waktu! Sejak kantornya "go virtual" dan si Daeng "resmi"nya berkantor di basement rumah kami, otomatis setiap waktu sholat dia mesti ktemu saya dulu, hehehehe. Bahkan selama Ramadhan ini, kami selalu pergi sholat Jumat bersama (hehehe... jadi ingat kalo di tanah air saya malah tidak pernah ikutan sholat Jumat) di salah satu community center di Gaithersburg (sekitar 10 menit dari rumah). Insya Allah, tahun-tahun mendatang (segera!) sholat Jumat-nya tidak perlu lagi ke Gaithersburg... tapi sudah di IMAAM Center... Amiiiiiiiiiiin!!!!

Buka puasa? Tidak ada yang istimewa di meja makan kami. Biasa saja... sederhana seperti biasa. Yang lain dari hari biasa diluar Ramadhan adalah kami selalu membatalkan puasa dengan korma alias dates alias karoma (Bugis) dan es buah (ini menjiplak "tradisi" di rumah Ibuku di Makassar... sejak dahulu kala selalu ada es buah -- bukannya kolak seperti yang dihidangkan di kebanyakan meja makan keluarga Indonesia untuk buka puasa). Habis itu, kami sholat Maghrib jamaah... dan setelah itu baru "makan besar". Menunya ya kadang ala Indonesia, kadang ala bulé seperti pasta/spaghetti, sampe' pizza yang kami pesan dari langganan baru kami di Rockville Pike yang pake' daging pepperoni halal ;) (tapi sekali lagi, gang -- singkatan dari "agang" berarti "teman" dalam bahasa Makassar dan sudah jadi bahasa biasa/gaul ala Ujungpandang --... kalo saya tetap ji ala Melayu, mesti dan pasti pake' nasi... hehehehe).

However, buka puasa yang istimewa dengan gaya "gotong royong" dan berame-rame plus sholat Maghrib berjamaah dengan ratusan muslim Indonesia lainnya selama Ramadhan ini kami sekeluarga lakukan di madrasah IMAAM di Tilden Middle School setiap hari Minggu sehabis kegiatan madrasah. Begini nih suasananya...

Iftar at Madrasah 1427 H

Menunggu waktu iftar/buka puasa. Ibu-ibu dan bapak-bapak siap berbuka dengan kolak dan atau es buah dan jajanan pasar ala kampung halaman, sementara anak-anak dengan donat dan jus. Lanjut makan besarnya... ibu-ibu dan bapak-bapak dengan "makan besar" ala Indonesia, sedangkan anak-anak dengan pizza dan mac and cheese ;)

Saya, David, dan Iman (plus Junior) merasa sangat beruntung bisa berbagi Ramadhan dengan keluarga besar IMAAM... salah satu berkah kami pindah ke Rockville... alhamdulillaah...

*****************

Si Junior dan bulan Ramadhan

Alhamdulillaah, anakku si Junior selama Ramadhan ini "tidak rewel" sama sekali dan sangat membantuku beribadah. Kalla ku pun "cuma" 4 hari... mostly karena saya sempat "tumbang" (emangnya pohon?! ha!) karena kena flu berat. Terimakasih sama si Ayah *sarcastic mode on*... saya terkontaminasi virus dari dia, hehehehe. Ayahnya Junior pun 3 hari tidak berpuasa karena flu (Beh! orang sini kalo kena flu betul-betul parah yak?). Kami akhirnya gantian sahur sendirian, karena pada saat dia sudah mulai puasa lagi karena berasa sudah baikan malah saya yang lagi parah-parahnya itu virus menyerang. Untungnya si kakak Iman akhir pekan itu tidak dengan kita... jadi doi tidak ketularan. Kami juga missed madrasah minggu itu. Ya, daripada orang-orang di madrasah terkontaminasi flu gara-gara kita, mending kita berdua meng-karantina-kan diri di rumah saja, iya kan? Syukur alhamdulillaah karena flu tidak 'tinggal' lama... soalnya lumayan tersiksa lah karena tidak bisa mengkonsumsi obat flu selama hamil begini. Kebiasaanku untuk minum air putih banyak-banyak juga sangat membantu proses penyembuhan dari flu kemarin itu.

Kunjungan ke Dr. Fauzia juga cukup melegakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kalo meskipun saya puasa penuh, si Junior tidak terpengaruh dan alhamdulillaah anakku tumbuh sehat dan pertumbuhannya normal. Saya pun selama puasa tidak merasa lemas (kecuali hari ketiga Ramadhan, waktu itu saya ikut ke kantornya David -- it's the last day sebelum go virtual -- dan berasa lemas menjelang siang... jadinya saya ikut makan siang bareng teman-teman kantornya David... sedangkan David tetap berpuasa).

22 weeks 3 days

Tetap ceria toh?!... meski lagi berpuasa ;)

Untukmu anakku, Ibu bisikkan kata-kata penuh sayang...


"Ibu benar-benar bangga padamu, Nak! Ko bantu Ibu untuk tetap tegar beribadah... malah ko jadi semangat bagi Ibu untuk beribadah maksimal di bulan Ramadhan ini. Makasih ya, Nak..."

Ah... ini menjelang tengah malam berganti ke tanggal 23 Oktober. Tadi di madrasah, selepas iftar dan sholat Maghrib, takbir dilantunkan (lengkap dengan "beduk"nya)... airmata menetes satu-satu... 1 Syawwal tiba, Ramadhan berlalu...

Allaahu akbar... Allaahu akbar... Allaahu akbar
Laa ilaaha illaa Allah... Allaahu akbar...
Allaahu akbar wa lillaahil-hamd...

Bau harum masakanku semerbak memenuhi rumah kecil kami. Saya bikin ketupat pandan (meski dalam plastik), rendang, kari lamb, sate ayam, dan acar timun. Tahun lalu tak sempat bikin apa-apa. Senyum bercampur haru dengan mata berkaca... sambil berbisik ke diri sendiri: "it's not that bad... at least malam lebaran I could feel a 'lil bit of rumah Ibu in here..."

Tertegun sejenak... ada SMS masuk. Rupanya dari Ibu... Ah, Ibu dengar kah tadi bisikanku itu?

"Slmt IDULFITRI maaf lahirbatin,
sdh 2thn kau tdk idul bsm kami tp kalian slalu dihadirkan dlm percakapn kami, plkcium ibu utk kalian."

Tangisku tumpah. Tak tahan akhirnya telepon ke rumah... yang angkat Ibu. Kedengaran dari belakang, di rumah rameeeee sekali... Setelah mengucap salam, tangis tak lagi terbendung. David yang ada di ruang tengah setengah berlari menghampiri dan memelukku sayang.

Ramadhan sudah selesai, tapi rindu itu tidak pernah usai...
Semoga diberi kesempatan bertemu Ramadhan lagi...
Tak sabar bertemu Ramadhan tahun depan...
dan berada di pelukan Ibu dan Ayah,
serta wanginya burasa' di malam lebaran di Datuk Ribandang...

3 comments:

Auliah said...

haru...membaca tulisannya

salam kenal

salam ka' sama junior dan keluarga disana semoga diberikanki' semua kesehatan

Yaty Yasir said...

Salam kenal juga Auliah! Salam ta' sudah saya sampaikan ke Junior... salam kembali katanya (terjemahan bebas dari sundulannya di perut, hehehe). Doa yang sama buat Auliah dan keluarga... semoga insya Allah bisa ki' ketemu tahun depan di Makassar!

-yu2n- said...

terharuku... emang siy kalo pisah sama keluarga, rasanya beraaattt skali..kek saya kodong, sendirian di sini..tapi pas lebaran kemaren pulang ja gang, :) senangya...bisa makan coto + burasa.. :)

salam kenal yaa..