Thursday, January 22, 2009

Cerita panjangnya (yang "harus" jadi pendek)

Maafkan saya... karena terlambat menepati janji untuk bercerita panjang setelah cerita pendeknya saya tulis di akhir bulan Agustus tahun lalu. Cerita panjang... yang akhirnya "harus" menjadi pendek.

Sebelum lanjut membaca, saya PERINGATKAN... bahwa postingan kali ini SANGAT PANJANG. Bagi yang tidak begitu suka membaca cerita panjang, saya minta maaf. I wish I could make it short... it's just not easy when there's so much to be shared...


Kebahagiaan di kehamilan kedua tahun lalu itu harus terpotong di minggu ke-10, ketika janin yang saya dan Ayahnya memberi nama "sementara" Yasir Kearns Junior atau Mallomo dinyatakan berhenti bertumbuh di usia 7 minggu melalui USG tanggal 22 September 2008. Inna lillaahi wa innaa ilayhi roji'uun.

Paket mawar dari Dounia... thank you, dear...Meskipun sudah selalu siap menerima yang terburuk -- karena sejak awal kehamilan tersebut, saya mengalami spotting yang on and off sampai akhirnya tanggal 22 September pagi, saya mendapati (maaf) spotting itu berubah menjadi bright red blood; yang mengharuskan saya dan David ke klinik Dr. Fauzia di Falls Church saat itu juga -- menitik juga airmata saya setelah menggumamkan kalimat "Sesungguhnya (semua) dari (milik) Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya (semua) akan kembali". David yang berada di samping saya saat itu, terhenyak sejenak... saya bisa melihat (dan ini yang membuat saya sangat sedih) dari matanya kesedihan yang sangat sangat dalam. Meskipun setelah itu, dia tersenyum, memeluk saya erat sekali dan menghibur saya dengan kata-kata yang tidak akan pernah saya lupa: "Don't be sad, Sayang. It's not for us. It belongs to Allah, and He wants it back".

Dokter kemudian mengajukan dua pilihan kepada kami: 1) mencoba melakukan "aborsi" pengguguran alami dengan menggunakan obat untuk memicu kontraksi rahim dengan harapan janin yang sudah "tidak ada" dapat terbilas keluar dengan sendirinya; atau 2) melakukan tindakan D & C atau kuret di RS. David kemudian bertanya, rekomendasi dokter apa? Beliau jawab bahwa pilihan pertama cukup aman melihat kondisi kesehatan saya yang alhamdulillah cukup fit. Tapi dengan wanti-wanti, begitu terjadi pendarahan yang tidak terbendung (dengan patokan bila menggunakan sanitary pad atau pembalut lebih dari 4 dalam 1 jam), saya HARUS langsung ke klinik atau ke ER (Emergency Room). Karena pendarahan hebat bisa membahayakan nyawa saya, katanya. Dengan berbekal rekomendasi dan instruksi dari dokter untuk menggunakan obat guna memicu kontraksi yang diharapkan bisa mengeluarkan janin secara "alami", kami pulang ke rumah disambut peluk erat dan sayang Kole dan Henny yang terpaksa mempersingkat jalan-jalan mereka hari itu di pusat kota Washington DC begitu menerima pesan telepon saya kalo janin kami "berpulang". Karena besoknya (hari Selasa, 23 September) kami ada janji untuk mengunjungi Aunt Shirley yang terbaring sakit, saya memutuskan untuk menunda menggunakan obat yang diberikan dokter setelah kami berkunjung ke Parkville.

Singkat cerita, malam hari tanggal 23 September, menjelang berangkat tidur saya menggunakan obat yang diberikan dokter dengan perasaan yang tidak karuan. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Setelah itu, saya minum 1 tablet Ibuprofen (penghilang rasa sakit -- painkiller) sebagai jaga-jaga untuk mengantisipasi kram (dokter sudah mengingatkan ini -- saya hampir tidak pernah merasakan yang namanya kram yang biasanya dialami pada saat menstruasi). Jam 3 subuh, saya terbangun karena serasa agak mulas. (Maaf) darah sudah mulai keluar. Ah, proses mengeluarkan "anakku" sudah mulai... saya berbisik pelan dalam hati (dengan perasaan sedih yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata :( ). Dan benar... di kamar mandi, saya memegang "lembaran" tissue yang cukup besar yang keluar dari rahim saya. "Ah, ini kah kau, Nak?". Saya duduk dalam diam... di tengah sunyinya subuh musim gugur. Tidak ada airmata yang tertumpah. I want him/her to know, that his/her Bunda ikhlas... Saya berbisik pada "anakku":

"Bunda ikhlaskan ko, Nak. Bunda sayang ko... tapi Allah lebih sayang. Pergi maki', Nak... Inna lillaahi wa innaa ilayhi roji'uun".

Mawar dari DJ

Setelah mengucapkan kata perpisahan itu, dia saya "lepas". Setelah itu, semakin banyak darah yang keluar yang diikuti dengan "tissue" (lembaran seperti "daging"?). Setelah mengganti pembalut yang bersih, saya kembali ke tempat tidur dengan kelelahan (mostly batin) yang teramat sangat. Saat adzan subuh berkumandang dan David bangun berwudhu untuk sholat, saya ikut terbangun dan mendapati tempat tidur sudah basah dengan darah. Astaghfirullaah! Saya setengah berlari menuju ke kamar mandi... dan di bath tub saya mendapati diri saya sudah "bersimbah darah" yang mengucur seakan tiada henti. Anehnya, saya tidak merasa panik dan merasa (tetap) sehat bugar. Yang kelihatan agak kaget dan pucat malah David. Mungkin ini pertamakalinya dia lihat darah sebanyak itu... dan "dari saya" pula! Dengan hati-hati dituntunnya saya kembali ke tempat tidur setelah mengganti seprei. Dia balik ke kamar mandi, membersihkan semua "mess"... dan sholat subuh. Setelah itu, dia tidak balik tidur lagi (seperti biasanya), malah keluar rumah membeli banyak Gatorade (dia takut sekali kalo saya dehidrasi karena kehilangan banyak darah) -- untungnya saya tidak minum, dan popok (untuk orang dewasa) buat saya karena sudah jelas sekali pembalut yang paling tebal pun tidak mampu menampung darah yang keluar. Dokter Fauzia juga dia telepon... dan informasi kalo saya kehilangan darah ternyata bikin dokterku panik juga. Dia malah suruh langsung ke ER (takut kalo saya ko-it kehilangan darah). Tapi setelah David menjelaskan kalo saya terlihat sehat (malah tidak merasa woozy atau pusing sama sekali), beliau minta kalo kami langsung ke kliniknya pagi itu juga. Zahra kami titip dengan Kole dan Henny. I was crying when I hold my beautiful daughter before we left the house.

Belum juga jam 10 pagi, kami sudah ada di klinik... dokter masih dalam perjalanan dari rumah sakit. Setelah di-USG, terlihat kalo hampir sebagian besar "tissue" sudah passed (keluar)... tapi ada beberapa bagian yang masih tertinggal menempel di dinding rahim. Menurut dokter sih itu sisa ari-ari atau placenta. Dia kemudian minta ijin saya dan David untuk melakukan D&C (kuret)manual (dalam keadaan saya tidak dibius sama sekali). Saya mendengar dari banyak cerita kalo kuret seperti ini sangat terasa sakit. Tapi alhamdulillaah, saat itu sakit yang ada masih bisa saya toleransi... malah kalau bisa saya bilang lebih banyak rasa "tidak nyaman"nya daripada rasa sakit. Mungkin karena dokter tidak perlu melakukan "pembukaan" (dilate) paksa karena sejak semalam rahim saya sudah mengalami kontraksi dan dilated (karena pengaruh obat). Setelah beberapa saat berusaha membersihkan rahim saya dan masih ada 'tissue' yang tertinggal dan masih terus terjadi pendarahan, dokter Fauzia "menyerah". "Let's do it in the hospital. I'll do the suction and you don't have to feel anything." Saya bilang: "I won't feel anything?". "Yes." Oh, artinya, saya akan dibius total selama proses D&C (dengan menggunakan suction curettage; also called vacuum aspiration, using a vacuum-type instrument). Saya merasa lega... setelah mengalami hari yang panjang sejak kemarin, tertidur dan tidak merasakan sakit sama sekali sepertinya cukup menjanjikan. Lagipula, bila tidak dilakukan D&C, saya bisa kehilangan banyak darah (karena pendarahan yang tidak akan berhenti), dan bisa membahayakan nyawa saya. David langsung setuju dan saya kemudian dirujuk sebagai outpatient (pasien tidak menginap) di Surgery Center (SC) - Virginia Hospital Center (rumah sakit tempat saya melahirkan Zahra). Itupun dokter pake' menelepon sebagai pribadi ke pihak RS karena biasanya pasien dijadwal paling tidak sehari sebelumnya (dan pada saat itu SC penuh) - untuk "menyisip" saya dengan alasan mendesak. Alhamdulillaah, kami dapat "tempat" dan kami langsung berangkat ke sana. Untungnya pula, sejak semalam saya tidak makan apa-apa (persyaratan operasi -- untuk anestesi -- harus "puasa" paling tidak 12 jam sebelum operasi)... hanya minum setengah gelas juice markisa paginya sebelum tinggalkan rumah. Ini sempat meragukan dokter ahli anestesi... tapi kemudian karena melihat saya sehat dan bugar, beliau setuju untuk put me to sleep :).

Setelah operasi D&C Mencoba tersenyum... setelah kehilangan
Sejam setelah operasi di ruang pasien. Alhamdulillaah, saya merasa sehat... Setengah jam setelah foto ini diambil, kami sudah meninggalkan rumah sakit.

Alhamdulillaah... proses D&C berjalan dengan lancar. Saya ditangani dengan sangat baik oleh para perawat, dokter ahli anestesi, dan dokterku sendiri. Operasinya berlangsung selama kurang lebih 1 jam, kemudian saya dipindah ke ruang pemulihan dimana saya dikontrol oleh perawat sampai saya tersadar kembali dari pengaruh anestesia. Dokter dan perawat memperlihatkan saya foto hasil USG pasca operasi kalo D&C berhasil membersihkan sisa tissue (dari incomplete abortion) yang ada di rahim saya. "It's all clean now," kata mereka. Setengah jam setelah itu, jam 3 sore saya dibawa ke kamar pasien dan di sana sudah menunggu suamiku. Lega rasanya bisa lihat muka penuh sayang David lagi. Saya yang kelaparan pun diberi minum juice dan crackers (biskuit gandum) oleh perawat... sembari menunggu saya pulih 100% dari obat bius. Dan right before 4 pm, saya dan David sudah keluar dari RS... alhamdulillaah... Allah memudahkan urusan kami :). Daftar "tidak boleh" yang banyak itu (terutama tidak boleh mengangkat barang yang lebih dari 4 kg dan bekerja berat selama paling tidak seminggu -- artinya kodong ndak boleh gendong Zahra-ku!) jadi oleh-oleh pulang ke rumah, juga janji untuk check up ke dokter pasca operasi 2 minggu kemudian.

Fruits covered with chocolate from Nate and Gin 01 Fruits covered with chocolate from Nate and Gin 02
Paket dari Nate dan Gin...

Alhamdulillaah, proses pemulihanku setelah operasi berlangsung dengan sangat baik. Pendarahan (yang normal -- seperti haid biasa) masih berlangsung selama 3 hari setelah operasi dan secara batin saya "pulih" dengan cepat. Ikhlas itu indah... saya dan David percaya rencana Allah selalu yang terbaik. Dia tempat menggantungkan segala sesuatu... tempat kami berserah... tempat kami bersimpuh. Kehadiran Kole dan Henny juga mempercepat proses pemulihanku. Seminggu setelah "kehilangan" itu, kami merayakan Idul Fitri 1429 Hijriyyah dengan penuh sukacita. Meski kadang masih suka berkaca-kaca kalo ingat saat saya mengucapkan kata perpisahan pada my little angel Mallomo, saya yakin malaikat kecilku itu selalu tersenyum padaku. Membalas tiap rasa sayangku padanya dengan: "Bunda, Mallomo sayang Bunda juga...".

Tepat 4 bulan kemudian, hari ini tanggal 22 Januari 2009, saya menulis entry blog ini di tengah masa istirahat setelah menjalani D & C (lagi) kemarin. Kehamilan saya yang ketiga "harus" berakhir pendek di usia 9 minggu. Janin kami berhenti bertumbuh di usia 6 minggu... berdasarkan USG di klinik dokter Fauzia di Falls Church hari Senin, 19 Januari 2009. Tidak seperti yang lalu, spotting hanya saya alami hingga minggu ke-6... setelah itu "bersih". Karena itu, harapan saya dan David cukup besar dengan kehamilan kali ini. Astaghfirullaah... ternyata kami takkalupa (Bahasa Bugis = terlupa; khilaf) bila Allah sang penentu segalanya. Rasa kecewa kemudian segera berganti dengan keikhlasan. Yang terbaik pasti yang dipilihkan Allah buat kami. Karena hari itu sudah tidak bisa menjadwal operasi di RS, dan besoknya (20 Januari 2009) adalah hari pelantikan (inaugurasi) Presiden Obama -- artinya semua bakal tutup kecuali sifatnya darurat atau emergency -- dokter menjadwal operasi D&C besoknya hari Rabu, 21 Januari 2009. Tanggal 20 itu hari yang cukup padat... paginya kami menghadiri "Ribbon Day" atau pemberian pita bagi Zahra di hari terakhir "Fall Class"nya di The Little Gym. Habis itu, kami menuju rumahnya Iman untuk bergabung dengan dia dan mamanya nonton (di tv)pelantikan Obama dan setelah itu merayakannya di restoran di Fairfax (Virginia). Alhamdulillaah... meski agak nervous menunggu besok (untuk D&C), saya cukup santai dan menikmati hari itu bersama dengan orang-orang tercinta. We had a great time... alhamdulillaah!

21 Januari 2009. Pagi-pagi setelah sholat subuh, di luar masih gelap dan masih dengan piyama, Zahra saya gendong dengan balutan jaket tebal dan selimut ke mobil. Kami bertiga kemudian "meluncur" menuju Fairfax City untuk menitip Zahra ke tantenya (Mamanya Iman) yang dengan berbaik hati menawarkan untuk menjaga Zahra seharian selama kami di RS -- padahal hari itu doi juga bakal sibuk berat di kantor. Saya menangis (Zahra pun menangis) sebelum kami tinggalkan dia menuju RS. Meski agak terlambat (karena jalannya macet -- kayaknya sih karena semua pada "bubaran" setelah pelantikan presiden kemarinnya), kami tiba di RS langsung ditangani oleh perawat untuk persiapan operasi. Kali ini, semuanya jauh lebih lancar dari yang dulu (dokter anestesi yang langsung menangani saya -- sampe' memasang IV pun super cepat dan tidak bikin lenganku biru lebam kayak yang dulu). Dokternya pun super kocak... sempat-sempatnya membanyol sebelum memasukkan cairan bius ke IV saya (bikin saya ngakak... abis itu ndak ingat apa-apa deh, hehehe).

Seperti yang sebelumnya, alhamdulillaah... semua berjalan lancar dan mudah. Proses pemulihanku pun cukup cepat. Semoga tidak ada komplikasi dan 2 minggu depan pada saat check up dengan dokter, saya dinyatakan pulih 100%. Tolong ingat saya dalam doa kalian...

Terus terang, dokter tidak mendapati sesuatu yang "salah" dalam dua kehamilanku yang berakhir pendek tersebut. Dua kali berturut-turut? Ada apa? Kenapa? Mungkin kuret-nya yang dulu tidak 'bersih'? What did you do? Pasti sering gendong Zah... pasti terlalu capek... mungkin... mungkin... mungkin... Begitu banyak pertanyaan yang membahana di udara. Saya dan David cukup hati-hati selama kehamilan ketiga kemarin itu. Menggendong Zah hampir tidak pernah saya lakukan... kerja seharian di rumah hampir semua di-covered sama David dan Iman. Saya cukup di"manja" saking hati-hatinya kami. Dalam sejarah kesehatan keluargaku, tidak ada satu pun yang mengalami miscarriage atau keguguran... apalagi dua kali seperti yang saya alami. Wajar bila mereka bertanya-tanya. Jangan salah... saya pun bertanya-tanya. Dokter dan perawat yang saya tanya memandang saya dan menjawab dengan "nada" yang sama: "Unfortunately, it (miscarriage) is not uncommon... it happens". Apalagi di usia akhir 30 tahun seperti saya (Juni nanti insya Allah, saya berulang tahun yang ke-39). Dokter memang sempat mencurigai saya ada masalah dengan faktor Rhesus (Rh) darah. Tapi setelah mengecek kalo saya O positif, kecurigaan itu "gugur". Rekan sesama Bunda di tempat Zahra bermain, tidak satu -- tapi ada beberapa -- yang mengalami keguguran berulang di usia kehamilan trimester pertama (multiple miscarriage at first trimester -- up to 16 weeks) seperti saya. Malah ada satu orang yang dari usia 37-43 mengalami keguguran 5 kali (3 kali berakhir dengan D&C, 1 kali dengan terapi karena kehamilan ectopic --kehamilan di luar kandungan; dan 1 kali keguguran dengan aborsi alami -- keluar sendiri tanpa melalui tindakan medis). Anaknya yang kedua dia "dapat"kan di usia 43 melalui proses bayi tabung (IVF - in vitro fertilization). Itupun dia bilang, kalo yang ini tidak berhasil, saya menyerah. Bunda yang lain "curhat" kalo dia keguguran 2 kali sebelum punya anak. Dia menghibur saya dengan bilang kalo paling tidak saya sudah punya "jaminan" punya anak (maksudnya Zahra) sebelum keguguran. "I didn't know if I could have a child or not at that time. It was so frustrating. It was so devastating", katanya.

Itulah resiko hamil di usia "senja". Sel telur yang kita punya sudah "tua", begitu kata teman saya menggambarkan secara gamblang kenyataan yang kami hadapi. Tahukah anda bila sel telur kita diproduksi tubuh pada saat yang sama... pada saat kita masih berupa janin di rahim Ibu kita?

Women are born beside a predetermined number of eggs. She never produces anymore. She releases usually one a month. If it is fertilized by sperm, this results in a pregnancy. If it isn't, she has her extent. That is why older women more frequently hold babies with down syndrome or other genetic defect. As a woman gets elder, her eggs age too. With age, comes all kind of things that can go wrong next to pregnancy. Not that they always will, but it is riskier to hold children later contained by life, next when you are in your 20's or 30's.

[How many eggs are produced within a woman every month?]

Perempuan lahir sudah dengan sel telur dengan jumlah yang tertentu. Tidak pernah lagi ada sel telur yang diproduksi setelah itu. Setiap bulannya, biasanya tubuh melepaskan satu sel telur yang apabila dibuahi oleh sperma maka akan terjadi kehamilan. Bila tidak (dibuahi), sel telur tersebut akan dikeluarkan oleh tubuh, yang kita kenal dengan menstruasi. Itulah sebabnya sejalan dengan usia, perempuan semakin besar kemungkinan memiliki bayi dengan kelainan seperti Down Syndrome atau kelainan genetik lainnya, karena semakin tua seorang perempuan, sel telurnya juga semakin "tua" (Catatan saya: ingat, SEMUA sel telur diproduksi tubuh pada saat yang bersamaan saat kita masih di dalam rahim Ibu kita! Jadi sel telur kita umurnya jauh lebih tua dari umur kita sendiri!). Semakin lanjut usia, semakin banyak pula resiko yang menyebabkan terjadinya kelainan dan "kesalahan" dalam kehamilan. Memang tidak selalu demikian, tapi kemungkinannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan hamil di usia 20an atau 30an.

Banyak kejadian perempuan, apalagi di zaman teknologi kesehatan yang sudah semakin canggih seperti sekarang ini, yang meski berusia di atas 40 tahun masih bisa hamil dan punya anak. Dengan peralatan dan metode modern serta obat-obatan yang canggih, kemungkinan punya anak di usia beresiko bisa diperbesar. Lain halnya dengan cara alami... "mother nature" sudah punya mekanisme sendiri berdasarkan izin Allah Sang Pemilik Kehidupan. Sel telur yang sudah "tua" punya keterbatasan-keterbatasan yang sudah ditentukan. Meskipun tidak sedikit pula yang (tentu saja) dengan izin dan kehendak (serta Kemurahan)-Nya, sel telur yang "tua" pun masih handal menghasilkan anak yang sehat walafiat dengan kehamilan yang semudah dan selancar di umur 20-an. Alhamdulillaah, sebagaimana contohnya kakakku tersayang, Kak Ida... yang insya Allah akan melahirkan anak ketiganya nanti di bulan April pada usianya yang ke-41! Alhamdulillaah, dengan cara alami pun beliau insya Allah akan menimang bayi tercintanya... insya Allah kelak sehat walafiat tak kurang sesuatu apa. Mohon doakan ki juga...


Saya sampai di akhir cerita panjang ini. Setelah "kehilangan" dua kali, setelah kembali ke rumah, saya bilang ke belahan jiwaku: "I think I am so greedy. Astaghfirullaah. Allah has already blessed me with two beautiful and smart daughters... How could I ask Him for more? Now I just want to ask Allah to give me a chance, a long life, so I could bring our daughters to be a good muslimah. That should be enough... I should not ask for more...". David hanya memandangi saya penuh sayang dan memeluk saya erat. "Insha Allah... Insha Allah... Aamiin to that, Sayang!".

Apapun yang Allah pilihkan buatku dan kehidupanku, PASTI lah yang terbaik... tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati kami. Bila kelak Dia masih mengijinkan kami untuk menambah momongan, insha Allah akan dimudahkan-Nya. Kalau pun tidak, alhamdulillaah... sudah begitu banyak berkah yang dilimpahkan-Nya kepada saya: suami yang begitu sayang dan cinta pada saya, anak-anak yang cantik dan pandai (maasha Allah!), Ayah dan Ibu yang selalu mendoakan saya serta keluarga besar saya di kampung halaman yang tak pernah berhenti mencintai dan menyayangi saya, orang-orang tercinta, sahabat dan kerabat di sini yang membuat saya merasa sangat beruntung... I am so blessed... alhamdulillaah... puji syukur kepada-Mu ya Allah...

Dan dua malaikat kecilku, insha Allah, akan menanti Bunda dan Ayahnya kelak di pintu surga... Aamiin!

12 comments:

Anonymous said...

Yaty sayang, saya jadi berkaca2 membaca cerita panjang ini....sambil mengingat kembali pengalaman yg saya alami.
Kadang2 saya bilang ke daeng, if I could turn back time, saya tdk akan menundah kehamilan. But we didn't know at that time. Astagafirullah...
Yaty.... please don't give up hope! Things happen for a reason (rahasia Allah). Insya Allah it will come at the right time.
Peluk sayang..muuaaachhh

M di Belgia

Yaty Yasir said...

Makasih, M cinta. Saya juga menulis ini kemarin dengan mata berkaca-kaca... dan ada bagian-bagian khusus yang membuat saya tidak bisa membendung airmata. Tidak mudah untuk mengucapkan kata berpisah dengan yang tercinta... it's just not easy!
Insya Allah, saya kuat dan tidak putus harapan. Semuanya saya gantungkan kepada-Nya.
Peluk sayang balik buatmu *mwah*

Lulut Harimurti said...

Kak yaty ikut berduka atas kehilangannya. Perasaan kehilangan yg sama yg pernah juga kita rasakan, tp keyakinan yg membuat kita semua ikhlas bahwa Allah mengetahui apa yg terbaik utk kita. Salam utk keluarga semua.

DuaEs Mommy said...

Yati, hiks.. speechless ma'
Seperti M bilang, don't give up hope, mudah-mudahan dikasih tambah kassa' ki (I knew you are soooo strong) beruntungki banyak orang-orang tercinta di sekitar ta' yang always kasih support.. semoga cepatki pulih nahh.. muuuaaahh..

si kepik said...

ikut berduka cita atas berpulangnya 2 malaikat kecil. semoga daeng yaity diberi kekuatan dan kesabaran. benar kata daeng, Allah yang maha tau, apa yang terbaik bagi hambaNya....

bunda Ibad said...

kak yaty dari awal saya baca saya sdh larut dgn kesedihan yg mendalam..innalillahi wa inna ilaihi rojiun..insha Allah ada hikmah dibalik semuanya..Allah sayang dengan kak yaty sekeluarga..2 malaikat kecil sdh menunggu bundanya di pintu surga.Amin..
kak, sy ke rumah sakit dan ternyata kak ida sdh pulang..turut bduka cita juga buat kak ida..
salam buat zahra sayang...

Anonymous said...

Kak Yaty, membaca ini membuat saya tak bisa membendung airmata. Semoga Allah selalu melindungi.

-Dewi_

Anonymous said...

baru ka lagi dapat blogta,and kaget plus sedih baca kalau kita kehilangan lagi yg 2 kali nya :(,tabahki k'yanti saya juga sebelum theo lahir sempat hamil and keguguran di usia 6 minggu,and 8 bln kemudian hamil mi theo alhamdulillah semuanya lancar and skrang theo sdh 20 blnmi,skrang saya lagi hamil sdh masuk 4 bln,and waktu di usia 3 bln sempat juga mengalami spotting alhamdulillah semuanya baik²saja doakan ka juga k'yanti biar lancar sampe melahirkan nanti :)sekali lagi turut berduka buat kedua anakta :(

wassalam

chichi

Ana said...

... aku juga baru ngalamin spt dirimu..2 x keguguran.. mei 09 dan 31 jan 10..dengan membaca ceritamu menambah kuat dan iklas diriku akan 2 malaikat kecil ku ....

salam

Ulfa Thoriq said...

Halo..membaca blog ini sesuatu sekali. Mengingat yg anda alami hampir sama dgn apa yg saya alami. Banyak org bilang bahwa Allah akan mengganti dgan yg lebih baik. Nyatanya,itu adalah seSuatu yg tk bisa tergantikn. Yg punya nilai dan tempat tersendiri dihati ayah bundanya. Terimakasih sudah berbagi cerita.makes me realize tht I' m not alone..

Cara cepat hamil secara alami said...

Masa hamil adalah masa yang penuh dengan kebahagian, setiap bumil pasti punya cerita unik dan berbeda, disaat-saat seperti itu peran suami sangat diharapkan guna memberikan dukungan dan bantuan dalam berbagai situasi.
Tetap semangat menjalani kehamilan ya bund...

juggle said...

sedih banget bacanya
semoga bisa diberi ketabahan untuk menerimanya ya