Sunday, October 29, 2006

Fall back...

Semalam, tanggal 29 dinihari jam 2.00... it's time to fall back the clock! "Waktu" sejam yang 'disimpan' bulan April lalu 'diambil' kembali.

Aneh dan confusing... alias membingungkan! Itu kesan pertamaku mengenai urusan mengundurkan/memajukan (spring forward - fall back) waktu sejam setiap bulan April (spring/musim semi) dan Oktober (fall/musim gugur), yang dikenal dengan Daylight Saving Time (DST). Mungkin aneh dan membingungkan bagiku yang berasal dari kawasan dimana jarum jam bergerak tanpa henti dan tanpa interupsi seperti disini, meskipun hampir semua alat sudah di-setting sedemikian rupa dengan canggih untuk secara otomatis mengikuti aturan DST setiap tiba waktunya, tanpa kita capek-capek mengubahnya secara manual. Satu-satunya alat penunjuk waktu di rumah kami yang perlu "ditangani" secara manual setiap tiba waktu "spring forward - fall back" adalah jam dinding di ruang keluarga (gambar di atas). Sedangkan HP/telepon selular, alarm clock, microwave, komputer, rice cooker, dan alat-alat elektronik lainnya yang dilengkapi dengan jam digital semua sudah secara otomatis "berubah" (ksatria baja hitam, kapang?! hee hee).

Awalnya (waktu masih di sekolah dulu di TO), saya pikir fenomena DST ada karena tuntutan alam dan sesuatu yang sifatnya alamiah/scientific. Ternyata... boleh dibilang, DST ada karena keputusan dan pertimbangan ekonomik dan politik! Tahukah anda bila penggagas DST adalah Benjamin Franklin? Bahkan dituliskan dalam situs yang sama, tujuan utama DST adalah untuk konservasi energi...

Well, sebagai "orang lingkungan", tentu saja ide Pak Franklin dengan DST-nya (konservasi energi) cukup masuk di akalku :). Hanya saja, jangan salah kalo semua orang mendukung keberadaan DST. Suamiku saja masih suka ngomel tentang DST (hee hee)... padahal doi seumur hidup merasakan yang namanya mundur/maju-kan jam dua kali setahun. Jangan juga tanya orang-orang yang punya kesulitan tidur... it's such a pain in the butt! hehehehe

Dengan "mundur"nya waktu sejam, berarti beda waktu antara kampungku, kota Makassar (Sulawesi Selatan, Indonesia) dengan Rockville (Maryland, USA) adalah 13 jam. Tidak begitu banyak perbedaan (masalah) sebenarnya antara 12 dan 13 jam... Sama saja sulitnya cari waktu untuk menelepon untuk keep in touch dengan orang-orang tercinta di Makassar, di sini pagi di sana malam begitu pula sebaliknya. Jadi ingat sama Iin (6 tahun), ponakanku yang bungsu (anaknya Kak Ida) yang kemarin kirim sms lewat HP ibunya: Tante Yaty, ini Iin mo ngomong... biar sebentaaaar saja, tolong telepon sekarang ya?

Oalaaah... Nak! Di sini masih jam setengah 3 pagi!!!


5 comments:

jonquilles said...

Repotnya mi di' ganti2 jam 2 kali setahun. Hanya satu manfaat yg saya rasakan, yaitu perbedaan waktu UK dan Indo bagian tengah jadi 8 jam, kalau mau nelp wkt pagi di sana tdk harus nunggu diatas jam 10 mlm.

Yaty Yasir said...

Ada juga Miya yang menurutku bikin heboh ini DST (bagiku): jarak antara waktu sholat jadi sangat pendek kecuali Isya dan Subuh (Fajr) yang hampir 12 jam! Kalo Dhuhr, Asr, Maghrib dan Isya kayaknya bedanya paling banyak cuma sekitar 2.5 jam saja. Jadinya klo tidak hati-hati memperhatikan waktu bisa-bisa ketinggalan waktu sholat :)

jonquilles said...

Iya Yaty benar ini yg paling heboh. Masuk winter time, berarti dpt 3 kali wkt shalat di kantor, dhuhur, ashar dan magrib. Kalau kepepet biasanya dhuhur dan ashar saya jamak, krn senggang wktnya pendek sekali di'.

jonquilles said...

tambahan: tdk perlu mi juga begadang nunggu isya kalau malam. sebelum jam 7 sdh masuk mi wkt Isya.

Yaty Yasir said...

Iyo cess... betul sekali itu! Jadi ingat kalo summer... ededeh yang kasihan itu Iman karena nunggu Isya yang masuk hampir jam 11 malam (padahal waktu tidur regular-nya itu jam 8 atau 8:30) dan dia harus bangun pagi untuk sekolah! Kadang itu sholat Isya dia setengah tidur, hehehe.

Sa juga dengan David kalo mo keluar beraktifitas biasanya kalo winter jadi lebih mudah... karena ndak perlu terburu-buru pulang ke rumah untuk kejar waktu sholat. Ato kita nanti keluar rumah pas sudah lepas Maghrib. Masalahnya tosséng iya klo begitu aktifitas di luar terbatas karena klo winter orang lebih suka tinggal di rumah. David itu suka berangan-angan... kapaaaaan ya tiap (shopping) mall atau public places bisa menyediakan ruangan (biar kecil mo) untuk sholat seperti di Makassar? Dia terkesan sekali waktu di Makassar kami setiap keluar rumah klo mo sholat gampang sekali cari tempat untuk sholat: masjid di mana-mana dan di shopping mall pun ada mushollah. Well, insya Allah... sa bilang... who knows one day? ;)