Tuesday, May 16, 2006

My only reason...

Lady behind the glass window: "Excuse me, may I ask you something?"
Me: Smile. "Sure!"
Lady behind the glass window: "Are you guys legally married?"
Me: Grin... super big. "Well, you're lucky because I'm not American, otherwise I would say: It's none of your business!". We all laughed.
"
But, since I'm not American, I'd be happy to answer that: Yes, we are legally married." More... big grin.
Lady behind the glass window: "Well, you're not American, right? I mean for now..."
Me: Eyebrows raised. "Pardon me?"
Lady behind the glass window: "You're gonna apply for a citizenship later, right?"
Me: Smile. "Nope! I'm pretty happy being Indonesian citizen"
Lady behind the glass window: "Well, just think about it...
I think in a couple of years you're gonna change your mind."

Big smile
.
Other two ladies also behind the glass window also smiled... and nodded.
It's so obvious that they're all agree
.


Other lady behind the glass window: "We're all did".

Me: Now laughing. "I don't think I will though... I love my country and I'm proud being Indonesian. I'm not gonna give up my Indonesian citizenship just because I'm here. I'm quite happy as a GC holder."

Smile...



Percakapan di atas terjadi beberapa bulan lalu (pas lagi sepi... waktu istirahat makan siang) waktu saya ke salah satu bank internasional di downtown (Washington) DC. Kebetulan beberapa waktu lalu (sebelum percakapan tersebut), saya dan David ke sana dan petugas (perempuan) yang sama yang melayani kami. Sebenarnya, tidak aneh melihat "pasangan campur" kayak kami di DC metro area (inilah kota yang segala jenis etnis, ras, agama, dst bercampur dalam satu "panci")... cuma karena mungkin agak-agak "lain" (karena saya Asian dan berjilbab... sedangkan David asli bulé) jadi cukup menarik perhatian yang lain atau gampang 'diingat' dan dikenali... termasuk teller bank ini.

Waktu pulang, saya ceritakan percakapan tadi dengan David. Saya bilang, eh... kenapa mereka (para karyawan bank itu) berasumsi bahwa semua imigran yang datang ke sini mo jadi warganegara? Trus, apa dikira saya menikah dengan bulé Amrik karena mo lihat yang namanya Amerika dan mo jadi warganegara? Sambil tersenyum lebar, David bilang kalo kemungkinan besar mereka berasumsi demikian karena begitulah pengalaman mereka (lihat percakapan di atas -- 3 orang karwayan yang ngobrol dengan saya semuanya adalah imigran yang sudah jadi US citizen). Mungkin saja, negara asal mereka tidak bisa menjanjikan masa depan (misalnya terlibat perang, dsb) sehingga datang dan tinggal di US merupakan "cita-cita". Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa begitu banyak kasus orang asing yang datang ke sini karena menikah (dengan warganegara US) hanya karena mo jadi warganegara (artinya "pernikahan" yang sakral itu sebenarnya bukan tujuan utama)... menikmati dunia yang sangat menjanjikan... a promising land...

Saya ketawa... asli mi ketawa...

Indonesia mungkin saja kacau balau, ekonomi payah, tambah "mundur" ke belakang, "kaya" akan korupsi, dst dst (kata Ayah saya beberapa hari lalu waktu saya telepon ke Makassar: "Aiiih... tambah sengsara maki' di sini, bensin mahal... mati lampu tiap hari!")... saya tetap cinta Indonesia.... dan selalu rindu Indonesia (dan Makassar tercinta). Rindu dengan orang-orang tercintaku, rindu dengan panas dan gerahnya kota Makassar, rindu makan di tenda kakilima (kentaki = kentara kaki), rindu dengar suara ayam jantannya Pak Gede -- tetangga sebelah -- berkokok pas masuk fajar, dst... bahkan rindu sama suara adzan super fals-nya Pak NK di masjid depan rumah (meskipun disini kalo masuk waktu sholat, apartemen kami serasa kayak di masjid saja -- komentarnya Kak Nani -- karena komputer yang ada adzan bersahut-sahutan... tetap saja adzan fals-nya Pak NK jadi 'merdu' karena rindu).

Saya tahu, banyak juga orang Indonesia yang jadi warganegara US. Mereka tentu punya alasan tersendiri yang tidak perlu orang lain tahu (termasuk saya). But I know for sure, that deep inside they're still (and always be) Indonesian meskipun pegang paspor bergambar "garuda" yang lain (istilahnya Kak Erik). Jadi US citizen tidak berarti mereka bukan orang Indonesia toh?! I have no problem at all there. Yang bikin saya mikkiri' (mikir) itu kalo ada yang berasumsi kalo semua orang yang imigran (terutama yang 'hijrah' ke sini karena menikah, kayak saya) "hanya" mo jadi warganegara.
Saya cukup puas "cuma" pegang "kartu hijau" aka GreenCard. Lagipula, kalo ditanya orang sini: "How do you like America?".
Saya selalu menjawab dengan senyum sambil menunjuk David: "For sure, I like him!". Mungkin bagi beberapa orang it's rather "Jaka Sembung". Tapi, saya tidak punya alasan lain kenapa saya ada disini... karena satu-satunya alasan saya datang dan "hijrah" adalah karena David... untuk berupaya menjalankan sunnah Rasul, punya keluarga yang sakinah, aman dan damai, dan penuh rasa cinta. Bukan karena dia bulé (ataupun alasan-alasan absurd lainnya), tapi semata-mata karena dialah yang dipilihkan Allah buatku. If you only knew... dulu sebelum ketemu David, saya tidak pernah punya minat untuk menikah dengan bulé... not my type, hehehe. Reaksi Kak Ina pertama kali waktu saya 'bocorkan' rahasia hati (lewat telepon... Kak Ina di Oz) dua tahun lalu: "Bulé? Hah??! Ko tidak suka bulé! not your type! Bisanya itu!!!".

Hehehehe... susahko... (maunya) Allah ko lawan! Bulé ini lain... dia BULUS


My one and only reason being here...

... bukan begitu, silessureng malebbi ku maneng?

6 comments:

ina said...

Hoy Ty, sa baru liat ini web mu. Good on you. I like it! Yang penting rajin mengisi beritanya, biar kita-kita juga tahu kabarmu.

Munawir said...

tawwa... rajinnya posting... enakjaki karena jadi housewife... sa nda bisa sering2 posting karena nda ada waktuku kodong...!!!
btw... sometimes sa malu jadi orang Indonesia karena banyak hal... tapi maumi diapa...?? sa lahir dan besar di sini...!!! kalo sa di luar negeri nanti... samajaki'... proud to be indonesian..!!!

Miya said...

Bisa ji toh pilih dua-duanya, yg ijo gambar garuda asli tetap dipegang trus bikin yg satu lagi. Pintarku' di' kasih saran, na saya sendiri juga sampai sekarang masih pegang yg ijo.

Perasaan cinta kita terhadap kampung halaman memang semakin kuat saat kita jauh darinya. Semakin menyadari how beautiful our country is. Mata semakin terbuka atas keindahan alam dan keramahan penduduknya pada saat kita mudik.

Ketawaka' baca ttg 'mati lampu'. Memang betul wkt mudik kemarin, hampir tiap hari mati lampu di rumah.

Mudah2an ya bisa pulang Ramadan nanti, eh tapi bukan tahun ini kan, mungkin tahun depannya lagi. Dengan senang hati menemani Yaty dan Dg David jjl di Enrekang. Saya sendiri belum pernah pi ke Kalosi so sekalian juga.

Mommy said...

Hidup paspor ijo ! memang tong itu Indonesia, biar banyak kurangnya tapi tetap tonji disayang hehehe..sy juga belum terpikir untuk ganti nationality, selama pegang PR masih aman, kenapa harus ganti :D

Anonymous said...

Yaty, cakep juga nih webnya. Rajin kamu ya setiap hari ngisinya.
Soal GE, he..he..he... masih Yaty yang dulu aku kenal, masih tetap dengan pendirian yang dulu diceritakan sambil lunch di plasa senayan.
Kelihatannya tambah seger aja both of you. Salam kangen dari Jakarta.

Munawir said...

kak yati... perasaan nda adaji masalah dengan tagboardku... bagusji warnanya... kenapaki nda pasang tagboard..??? biar bisa praktis jumpe2... he he he...
btw ada blog baruku.. bout anak kelautan yang kuodo'2 itu...

http://mohabbet.blogspot.com

makasih...!!!