Wednesday, February 28, 2007

Three years ago...

On February 28th, I got an email from someone, his username: dkfour. Such a nice letter . Though, I felt bad coz I couldn't reply it since I have no credit card .

To: YY_Makassar
From: dkfour
Subject: Asalaamu alaikum

Greetings from the USA!

Although I've heard of Indonesia, I can't say that I know a whole lot about it. Your island sounds very lovely, and I'm sure it's beautiful there right now.

I see that you work with the environment, but you don't mention how. I feel very strongly about the environment and when I was younger I spent a lot of time in the woods camping and hiking. I'd love to know a little more about what it is that you do for a living.

Your profile mentions that you speak another language, I assume that that must be your local clan's language. I, unfortunatly, only speak English, but I guess if there is only one language you speak, English isn't the worst.

Please write back soon,
David

But I guess Allah wanted this first contact to be a life contract . We then chat over yahoo messenger for the first time (by accident! really!!!) on March 1st during my lunch break at the office back in Makassar.

And today? Now? I'm chatting (in a real "online"... not thru' internet *wink*) with my loving husband, hugging on the couch while watching our precious little Zahra's asleep on her bouncer... his username is dkfour.

I love you, David... with all of me ...

Friday, February 16, 2007

Perkenalkan, anak perempuanku...

Zahra usia kurang dari 8 jam

Zahra Shirley Kearns namanya.

Alhamdulillaah...

Lahir di Virginia Hospital Center, Arlington, negara bagian Virginia, pada hari Senin tanggal 5 Februari 2007 -- bertepatan dengan ulang tahun perkawinan Kakek & Neneknya di Makassar yang ke-41 -- Jam 4:08 sore EST (Eastern Standard Time -- beda 13 jam dengan Makassar).

Berat lahir 8 pounds 2.4 ounces (kurang lebih 3.7 kilogram), panjang 21 inches (53 sentimeter).

Zahra lahir melalui emergency c-section (operasi caesar) setelah Bundanya berjuang untuk bisa melahirkan normal selama kurang lebih 6 jam tapi tidak diperkenankan Allah karena letak kepala Zahra yang menyamping di jalan lahir.

Meskipun demikian, semuanya dimudahkan Allah Nilai (score) APGAR Zahra 9/9 dari skor "sempurna" 10. Menit pertama setelah lahir APGAR-nya 9 dan kemudian setelah diukur lagi 5 menit berikutnya skor-nya juga 9. Memang, Allah itu sayaaaaaang bener sama kami dan sekarang Zahra sudah berumur 11 hari, tumbuh besar, makin cantik, makin menggemaskan, makin pandai mengenali suaraku dan suara ayahnya.

Insya Allah, mengenai perkembangan Zahra akan tetap saya tulis di sela-sela kesibukan menjadi Bunda baru di Catatan Harian Ibunda... meski sekarang masih "blank" sejak kelahiran Zahra tapi saya janji untuk meng-update-nya once I can manage my new time schedule.

Terima kasih kepada semua yang telah berbaik hati dengan tulus memberikan ucapan selamat, doa, dan pengharapan terhadap kelahiran anak perempuanku, anak perempuan kami. Kami meng-amiiin-kan semuanya dari sini.

Perkenalkan, anak perempuan kami: Zahra Shirley Kearns...

Zahra diapit sayang Bunda dan Ayah... hari terakhir kami di RS untuk pulang ke rumah

Semoga Allah selalu menjagamu, Nak... Bunda dan Ayah sangat sangat menyayangimu...

Sunday, February 04, 2007

Rindu ku'!!!!

Kemarin waktu lagi mo'jo' alias merajuk a.k.a ngambek -- don't tell me that it's a hormonal thingy... because I hate that! --, saya baring sambil melayangkan pikiran jauuuuuh ke kota kelahiranku Makassar (saya sebenarnya lebih suka pake' "Ujungpandang" biar tidak rancu dengan "Makassar" sebagai bahasa dan etnis). Terlintas di benakku raut muka Ibu, Ayah, dan saudara-saudaraku plus ponakanku yang 5 orang itu, rumah di DatRib (yang katanya lagi siaga banjir semata kaki), kamarku dan buku-bukuku yang kurindu, kantorku di Sudiang beserta teman-teman kantor, pété-pété yang jadi siap sedia mengantarku ke mana saja, daeng Da'di' tukang becak langgananku yang selalu dengan senyum menungguku sepulang kantor di lorong kecil yang menghubungkan Jalan Urip Sumoharjo ke belakang Tugu Peringatan Korban 40 ribu jiwa untuk mengantarku menuju ke DatRib,... dan ugh... tiba-tiba tercium bau wangi masakan khas yang sudah hampir 2 tahun ini kurindu: makanan yang kuidam-idamkan dari kampung halaman! Dengan gaya "alert", saya berusaha untuk menajamkan penciuman... Ah, apa David lagi masak di dapur? Masa' masaknya sampe' macam-macam... dan semua yang saya impikan lagi! Bau wangi itu bertahan sampe' sekitar 1 menit dan kemudian hilang. Fatamorgana mi sedeng, begitu batinku dengan 'nada' kecewa. Mungkin karena dalam keadaan mo'jo' itu saya berusaha untuk mem-blok pikiranku yang lagi keruh karena marah dengan mengingat semua yang "indah" dan "enak-enak" ya? Tidak sadar, saya mulai "mendata" dan membuat daftar tempat makan dengan makanan kesayanganku (tidak berurut berdasarkan yang paling saya sukai dan rindukan saat ini):

  • Coto Makassar. Langganan favoritku adalah di warung kentaki (kentara kaki) di dekat kantor di Sudiang (depan/seberang Toserba CITRA), di Jalan poros menuju bandara. Saya sempat minta dikirimkan foto warung lengkap dengan cotonya ke teman kantor, tapi entah sampe' sekarang foto tersebut blum pernah sampe' *hiks*. Berita terakhir, katanya karena harga yang semakin melonjak harga semangkok coto berikut ketupat pandan/burasa'nya sampe' lebih dari 10 ribu rupiah. Tapi kalo pulang mudik nanti, biarpun semahal itu (insya Allah kalo warungnya masih ada) mo dibela-belain ngajak David makan disitu.

  • Nasi Kuning BTP. Hampir setiap hari kalo tidak ada jadwal makan coto atau tidak lagi puasa (Senin-Kamis), dalam perjalanan ke kantor dengan pete-pete (ataupun waktu bis kantor masih beroperasi) saya selalu menyempatkan singgah di warung naskun di pintu masuk kompleks BTP. Meskipun harganya lumayan mahal dibanding dengan nasi kuning yang ada di sekitar kantor, tapi worth it. Rasanya itu... blum lagi lauknya yang lengkap. Klo dulu (klo ndak salah) harganya yang lengkap bisa sampe' 6 ribu rupiah sebungkus (tapi dijamin kenyaaaaaaaaaang! alias bassoro'!)... ndak tahu sekarang...

  • Soto Banjar TamalanreaSoto Banjar di depan kampus STIMIK Makassar di Tamalanrea. Dulu waktu masih kecil, kami sekeluarga hampir setiap dua minggu makan soto banjar yang ada di dekat Kantor Pos Besar Makassar (sekarang masuk kawasan Pasar Baru yang sewaktu saya tinggalkan Makassar masih blum selesai-selesai juga pembangunannya). Tapi karena jauh dari DatRib dan yang di dekat Unhas itu aksesnya lebih mudah (saya lewati kalo pergi-pulang kantor), tempat ini jadi pilihan yang tepat. Rasanya? tidak beda jauh dengan yang di Kantor Pos dan lebih murah.

  • Jalangkoté Salahutu. Hampir setiap minggu, terutama kalo lagi puasa Senin Kamis saya sempatkan untuk beli jalangkoté sepulang kantor dengan bela-belain ganti pété-pété tiga kali untuk bisa berbuka puasa dengan soul snack khas Ujungpandang ini. Sebenarnya di Makassar ada beberapa tempat jual jalangkoté yang juga saya sukai, tapi kelebihan jalangkoté Salahutu adalah "lombok"nya (ini bahasa Ujungpandang untuk kuah sambalnya) yang super pedas and garlicky! Kalo lumpia? Nope! I prefer jalangkoté di atas lumpia dan snack lainnya... dijamin!

  • Nyuknyang (Bakso) Atiraja. Tidak ada pi samanya, terutama bakso gorengnya yang khas dan tidak ada duanya! Sebelum saya tinggalkan Makassar, ada dua lokasi: yang pertama di Jalan Gunung Merapi (mesti dibela-belain naek angkot trus sambung becak... kadang juga pake' japrut -- jappa paruntang alias jalan kaki -- kalo lagi mau) dan lokasi yang baru di dekat kompleks Mall Panakkukang. Ini salah satu yang paling saya idamkan waktu di tiga bulan pertama kehamilanku.

  • Pangsit dan Nyuknyang Donal. Ini tempat makan anak muda Makassar yang ada sejak jaman saya sekolah menengah (lokasi awalnya di Jalan Karunrung... sekarang tambah lagi di daerah pertokoan Ahmad Yani. Entah sekarang tambah lokasi lagi ndak ya?). Ini adalah restaurant milik keluarga adik angkatanku di Kelautan UnHas. David sempat saya ajak beberapa kali makan pangsit di sini... he loves it! terutama juice jeruk nipisnya...

  • Roti dan palopo'Roti Bugis dan palopo'. Roti khas dari Sidrap -- kampung asal Ayah dan Ibuku... tapi yang ini khas dari Tanete-Allakuang (tempat kelahiran Ayah) dari tepung beras, dilengkapi dengan palopo' ini saus manis dari gula merah, santan, dan kuning telur. Kalo lagi musim durian, palopo' ini sering dikasih durian untuk penambah legit rasanya. Biasanya roti dan palopo' merupakan penganan khas untuk sarapan pagi. Gambar di samping saya ambil saat lebaran Idul Fitri tahun 2004 terakhir di rumah Indo' (ibunya Ayah) di Pangkajene Sidenreng. Mmmmm... rindu makan roti na (Bugis = dan; and) palopo'...

  • Masakan rumah: sayur bayam bening dengan jagung manis, ikan sunu bakar yang ditumbuk trus dikasih minyak kelapa asli (boka tanak), dimakan dengan lombok (sambal) tumis khas DatRib. Waaaaaaaaaah... saya bisa nambah berkali-kali! Atau pecel segar dan empal daging (dimakan dengan sup kacang merah) buatan Ibuku... yummmmmm!!!

Menu Wong Solo MakassarSebenarnya masih banyak sekali makanan yang saya rindukan dari kampung halamanku Ujungpandang, tapi yang tidak bisa saya bikin di sini ya yang saya tulis di atas itu. Yang lain-lainnya masih bisa saya cari penggantinya yang agak mirip (paling tidak untuk melepas rasa rindu saja) atau bisa saya bikin di dapurku, seperti tempe, sayur kangkung tauco, ayam bakar, dan sambal terasi serta sate... seperti menu restoran Wong Solo di samping. Buktinya? hehehehe... coba deh lihat di foto-set ku yang di flickr: MASAKANKU. Cukup menggoda ji toh?

Sudah mo deh... knapa malah setelah menulis ini kerinduan makin memuncak??? Hiks. I just can't wait to go back... meet my beloved Ibu and Ayah... and the whole family that I miss like crazy. Don't tell me that it's a hormonal thingy... because I hate that! But... *hiks* mungkin ini pertanda lain kalo baby Z sudah semakin dekat "terbujuk" untuk keluar menjumpai Ayah dan Bundanya?

Oh my... am I being Jaka Sembung again?