Tuesday, October 31, 2006

My new project

Sudah beberapa minggu ini saya dan David bolak balik ke toko perlengkapan rumah dan pertukangan (hardware store) untuk cari "penutup" jendela tempat kerja David di basement. Memang agak riskan karena dari luar, kamar kerja David persis kayak akuarium (dia yang ikannya, hehehe)... asli deh transparan! Padahal 'kan semua alat kerja kantornya ada disitu. Saya maklumi, meskipun lingkungan tempat tinggal kami relatif aman, tapi tetap saja harus hati-hati... dimana-mana juga ada orang jahat, iya toh? Dan paling tidak yang bisa kita lakukan adalah tidak memberikan kesempatan orang jahat berpikiran jahat. Eh... *bingung maki' eh*... Blum lagi kalo pagi, matahari langsung "kena" monitor komputernya dan bikin silau (and of course, it's not good for the monitor itself). For sure, he really needs that curtain!

Meski sudah keliling-keliling, so far, we couldn't find anything that suits our need. Entah itu ukurannya yang tidak cocoklah (maklum... ini rumah tua... jendela basement pun masih pake' yang "ancient" punya!) ataupun bahan dan materialnya yang tidak berkenan di hati si Daeng. Ada lagi yang lumayan "pas", tapi harganya bikin mata ta'buccilla'. Nah, kalo urusan yang ini, saya yang tidak ikhlas, hehehehe. Masa' untuk tutup jendela basement saja pake' keluar duit alias manré ongkoso' segitu? Hee hee... kelihatanmi "gaya ibu rumah tangga"ku di'?! maunya yang berkualitas tapi ekonomis alias hemat. Nassa mi!

I'll make you one, kataku sok pédé ke David. Tapi alasan (lagi-lagi yang ini... sayang istri!)-nya, dia tidak ingin merepotkan saya. Lagipula, karena kesibukannya belakangan ini, agak sulit untuk mencari waktu mengantarkan saya ke toko kain (meskipun tokonya lumayan dekat)... ditambah lagi penyakit malas saya (untuk keluar rumah) memang agak kambuh (hee hee). Ya sudah... Tapi tetap saja niat untuk membuatkan kain tutup jendela itu ada di pikiranku.

Setelah "putar otak", semalam saya bongkar kardus besar yang berisi seprei (bed sheet) dan selimut. Aha! Dapat satu potong kain seprei yang motifnya cute dan seingat saya tidak pernah dipake' (karena ukurannya kecil... tidak muat untuk dipake' di ranjang kami maupun ranjangnya Iman). Trus, saya tanya ke David apa dia suka corak kain ini untuk jadi bahan curtain di ruang kerjanya. Alhamdulillaah dia suka! Are you really gonna make the curtain? Heh... iyé! I'll try... tapi ambilkan dulu itu kotak mesin jahitku di basement, kataku.

And today? Alhamdulillaah... jadi juga curtain yang kujanjikan ke Daengku! Sangat mudah bikinnya... cuma memang untuk amatiran kayak saya agak ragu juga pas mo potong kain. Dengan sedikit "matematika", ukur sana sini... bismillaah! Setelah itu, baru deh kutak katik mesin jahitnya. Oh iya, mesin jahit ini hadiah/hibah dari Aunt Shirley, tantenya David yang tinggal di utara Baltimore. Beliau menghadiahkan ke saya mesin jahit kesayangannya karena sudah agak sulit bagi beliau untuk melakukan aktivitas jahit menjahit, dan juga karena beliau tahu kalo punya mesin jahit adalah impian saya sejak pindah ke sini ;). Meskipun sudah tua, mesin jahitku kondisinya sangat bagus karena Aunt Shirley adalah orang yang sangat telaten merawat (makanya, sekarang jadi kudu hati-hati juga... melanjutkan untuk merawat hadiah ini seperti cara Aunt Shirley!). Hampir tiga bulan mesin ini "nganggur"... dan baru saya buka dan pake' hari ini.

My new project

(Klik gambar untuk melihat lebih jelas)
Meja makan yang jadi "center of my working spot". Menjahit sambil sesekali memandang keluar jendela lihat squirrel yang sibuk mengumpulkan walnut untuk persediaan musim dingin :). Gambar bawah: David lagi kerja (he's having a conference call)... dan curtain buatanku juga ikut méjéng, hehe...

And guess what? He really likes it! Saya memang sengaja bikin surprise dengan memasang curtain itu pas dia lagi keluar rumah siang tadi. "Oooohhh... I love my wife!", katanya sambil memelukku dari belakang sewaktu dia kembali dan dapatkan curtain impiannya terpasang. Hee hee... *blush*. Dengan memanfaatkan kain seprei yang tidak terpake' lagi dan menggunakan mesin jahit pemberian Aunt Shirley (thank you, Aunt Shirley ), saya bisa dapatkan hasil yang memuaskan tanpa perlu keluar duit sepeser pun!

Well, itu ceritanya tentang my simple new project. Sekarang di kepalaku sudah banyak ide... paling tidak sekarang sudah agak pédé untuk menggunakan mesin jahit. Memang, curtain yang merupakan proyek pertamaku ini sangat simple dan mudah... Tapi bukankah sesuatu yang besar itu selalu diawali dengan cara yang sederhana dan mudah?

Insya Allah...

Monday, October 30, 2006

Battala'???

Wooooooooooyyy!!! Battala' (Bahasa Makassar= gemuk; gendut; godé'; chubby; fat...) mu, Ty!

Begitu komentar Kak Ina dan orang-orang tercinta di Makassar begitu lihat foto lebaranku bertiga dengan Iman dengan David. Hah?! Rupanya selama hampir 3 bulan ini, orang-orang rumah (di Datuk Ribandang, kota Makassar) tidak pernah mengikuti kabar-kabariku (apalagi lihat fotoku) sejak komputerku di sana "mati suri" kena virus beberapa waktu lalu (*kodooooong*). Jangankan mereka, saya saja ta'buccilla' (Bahasa Makassar = mata melotot) --kayak itu eh yang di film kartun, hee hee -- lihat diriku sendiri di foto itu. Iyo di'?! Se-battala' itu kah saya sekarang? Oédédéh...

Masih saya ingat waktu pertemuan rutin dengan Dr. Fauzia kurang lebih 4 minggu lalu. Saya mengeluh karena merasa "tidak kelihatan" seperti hamil karena merasa berat badanku tidak begitu banyak bertambah sejak trimester pertama hingga masuk trimester kedua. Saya khawatir (apalagi banyak sekali yang berkomentar karena saya terlihat "kurang gizi" untuk ukuran orang yang sedang hamil) jangan sampe' ada apa-apa sehingga berat badan saya "jalan di tempat". Waktu itu, Dokter Fauzia cuma tersenyum lebar... "oohh, you're doing just fine, Yaty. Don't worry about that. Trust me, you're going to get bigger that now you passed the 20 weeks".

Ha! Ucapan bu dokter itu terbukti mi sekarang. Begitu lewat minggu ke-22, berat badanku mulai "heboh" naiknya. Padahal kalo dipikir waktu itu malah saya lagi berpuasa... ditambah lagi urusan makan juga saya tidak begitu balala (Bahasa Makassar= rakus), biasa saja. Soalnya makan sedikit saja, rasanya sudah bassoro' (Bahasa Makassar= kenyang; begah; full)... dan kalo kebanyakan makan pasti kena heartburn. More, I don't like snacking, either... alias saya juga tidak begitu suka ngemil. Kebiasaan minum air putih lebih dari 1 liter sehari pun masih saya lakoni (saya juga bukan soda lover kayak si Daeng!). Saya juga tidak bermalas-malasan di rumah, malah kadang David yang capek mengingatkan saya untuk istirahat. Lalu... apa yang bikin saya tiba-tiba jadi "raksasa" kayak bgini?

"...because you're pregnant, Baby!" kata David berulang kali sambil tersenyum (datang mi sédéng isengnya kalo lihat saya khawatir seperti itu). Yang bikin saya khawatir, jangan sampe' ada apa-apa... knapa jadi tiba-tiba dalam kurang lebih sebulan jadi humungous kayak begini?! *hiks*. Jangan-jangan kena gestational diabetes? (Duh, na'uudzubillaahi min dzaalik deh...). Tapi dari hasil browsing dan baca banyak referensi, gejala dan tanda-tanda ke situ tidak saya dapatkan pada diriku (alhamdulillaah)... meskipun memang disinggung juga di beberapa referensi tersebut kalo gejala/tanda dari gestational diabetes kadang tidak terdeteksi secara visual. Well, hari Jumat nanti kalo kunjungan ke dokter baru deh tes lagi (oh iya, setiap berkunjung rutin ke obgyn selalu diperiksa urin untuk lihat kadar gula) sekalian juga pasti dapat rujukan untuk ke lab untuk glucose screening test... karena hasil lab yang lalu menunjukkan hasilnya negatif (normal). Maklum... saya masuk golongan yang high risk *kodong* :).
Your practitioner may want you to be screened earlier than 24 weeks if a routine urine test shows a high amount of sugar in the urine or if you're considered at high risk. If the results are normal, you'll be screened again at 24 to 28 weeks.


*hiks* jadi ingat waktu pertama kali glucose screening, saya sampe' muntah dan insyaf (baca: pingsan) karena waktu itu sekalian diambil darah. Moga-moga nanti yang berikut tidak pake' acara pingsan lagi...

Oh iya, tadi browsing dapat website menarik: Weight Gain Calculator for pregnancy. Wuhhuuuyyyy!!! Ternyata berat badanku masih teramat sangat normal... masih di ambang batas bawah toleransi. Sebelum hamil, berat badanku sekitar 111 lbs atau sekitar 50.2 kg (ini pun sudah rekor ter-berat-ku seumur hidup! hehehe)... dan empat minggu lalu sekitar 117 lbs atau 53 kg (ini masih di bawah ambang batas normal). See? Naiknya cuma 3 kg saja (mulai dari 0 sampai masuk 5 bulan!). Dan kalopun sekarang naiknya lebih dari 3 kg (artinya sekitar 56 kg... which I doubt) masih berada di ambang batas bawah berat badan normal (untuk usia kehamilan 6 bulan).

Sebenarnya saya tidak begitu heboh memperhatikan soal ke-battala'-kan ku ini... cuma karena semua orang di rumah (DatRib) "menegur", jadinya agak prihatin juga, hehehehe. Atau mungkin mereka kaget karena lama tidak ketemu dan melihat saya dan tiba-tiba sekarang jadi 'raksasa' seperti sekarang? Terus terang, saya khawatirnya lebih banyak kalo sampe' gemuknya bukan gemuk "normal" alias ada apa-apanya (seperti misalnya gejala gestational diabetes yang saya sebutkan di atas). Kalo semuanya baek-baek dan normal saja, saya tidak begitu mempermasalahkan. Biar battala' tapi tetap ji cantik toh?! Hahahaha!!! *Puji alé mode on*

So, guys... I'm doing just fine (ini juga untuk menenangkan diri sendiri, hee hee). Sampe' sekarang juga cincin kawin masih muat... malah masih sama longgarnya dengan waktu pertama kali saya pake' dua tahun lalu ;). Eh, lihat baju yang saya pake' waktu lebaran (yang bikin saya kelihatan super battala' itu)? Ini dapat fotoku 5 tahun yang lalu (waktu mengunjungi Festival International di Toronto... di "stand"nya Japan) dengan baju yang sama! Ha! Ketahuan pake' baju stok lama berlebaran, hahahahaha!

Fujisan

Edédééh... pantas saja Kak Ina bilangi saya battala'!!! Coba saja lihat perbedaannya!!! Ndak 'papa deh battala'... yang penting bahagia *wink* dan bangga sebentar lagi jadi Ibunda. Yang penting Ibunda dan Junior sehat-sehat saja, insya Allah. Iyo di', Nak? *ngomong sama Junior... sambil usap-usap tummy*. Hee hee.

Sunday, October 29, 2006

Fall back...

Semalam, tanggal 29 dinihari jam 2.00... it's time to fall back the clock! "Waktu" sejam yang 'disimpan' bulan April lalu 'diambil' kembali.

Aneh dan confusing... alias membingungkan! Itu kesan pertamaku mengenai urusan mengundurkan/memajukan (spring forward - fall back) waktu sejam setiap bulan April (spring/musim semi) dan Oktober (fall/musim gugur), yang dikenal dengan Daylight Saving Time (DST). Mungkin aneh dan membingungkan bagiku yang berasal dari kawasan dimana jarum jam bergerak tanpa henti dan tanpa interupsi seperti disini, meskipun hampir semua alat sudah di-setting sedemikian rupa dengan canggih untuk secara otomatis mengikuti aturan DST setiap tiba waktunya, tanpa kita capek-capek mengubahnya secara manual. Satu-satunya alat penunjuk waktu di rumah kami yang perlu "ditangani" secara manual setiap tiba waktu "spring forward - fall back" adalah jam dinding di ruang keluarga (gambar di atas). Sedangkan HP/telepon selular, alarm clock, microwave, komputer, rice cooker, dan alat-alat elektronik lainnya yang dilengkapi dengan jam digital semua sudah secara otomatis "berubah" (ksatria baja hitam, kapang?! hee hee).

Awalnya (waktu masih di sekolah dulu di TO), saya pikir fenomena DST ada karena tuntutan alam dan sesuatu yang sifatnya alamiah/scientific. Ternyata... boleh dibilang, DST ada karena keputusan dan pertimbangan ekonomik dan politik! Tahukah anda bila penggagas DST adalah Benjamin Franklin? Bahkan dituliskan dalam situs yang sama, tujuan utama DST adalah untuk konservasi energi...

Well, sebagai "orang lingkungan", tentu saja ide Pak Franklin dengan DST-nya (konservasi energi) cukup masuk di akalku :). Hanya saja, jangan salah kalo semua orang mendukung keberadaan DST. Suamiku saja masih suka ngomel tentang DST (hee hee)... padahal doi seumur hidup merasakan yang namanya mundur/maju-kan jam dua kali setahun. Jangan juga tanya orang-orang yang punya kesulitan tidur... it's such a pain in the butt! hehehehe

Dengan "mundur"nya waktu sejam, berarti beda waktu antara kampungku, kota Makassar (Sulawesi Selatan, Indonesia) dengan Rockville (Maryland, USA) adalah 13 jam. Tidak begitu banyak perbedaan (masalah) sebenarnya antara 12 dan 13 jam... Sama saja sulitnya cari waktu untuk menelepon untuk keep in touch dengan orang-orang tercinta di Makassar, di sini pagi di sana malam begitu pula sebaliknya. Jadi ingat sama Iin (6 tahun), ponakanku yang bungsu (anaknya Kak Ida) yang kemarin kirim sms lewat HP ibunya: Tante Yaty, ini Iin mo ngomong... biar sebentaaaar saja, tolong telepon sekarang ya?

Oalaaah... Nak! Di sini masih jam setengah 3 pagi!!!


Monday, October 23, 2006

Cerita Lebaran

Tiba lebaran... alias malleppe' (Bugis = lebaran) tanpa leppe'-leppe' (Bugis = sejenis penganan khas lebaran-nya orang Bugis dari beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang).

Kami bertiga (si Junior masih "sembunyi", hehehe) berangkat untuk sholat Idul Fitri di Bohrer Park, Gaithersburg (Maryland) sekitar 12 menit dari rumah.

Singgah sejenak untuk "berbuka" dengan kopi dan donat di Starbucks di Fallsgrove.

Tiba di tempat sholat, ruangan sudah penuh 3/4-nya... Masya Allah, serasa di tanah air saja. Lautan kerudung/mukena khas Indonesia di barisan/shaf perempuan... saya dan Iman lalu duduk sambil mendengarkan suara takbir yang bersahutan, bikin hatiku bergetar.

Eid ul Fitr Prayer 1427 H

Iman yang tak henti-hentinya mencoba menghafalkan bacaan selepas takbir untuk sholat Eid yang diajarkan kemarin di kelas madrasah-nya, bikin saya senyum-senyum. She's sooo excited. Ini sholat Eid ketiga saya dengan dia (dua kali Idul Fitri dan sekali Idul Adha). Eh, "anak"ku sebentar lagi jadi gadis... coba saja lihat, dia sudah hampir setinggi saya, bukan?

Habis sholat, kami mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Br. Firdaus Kadir. Alhamdulillaah, disampaikannya dalam dua bahasa... jadi saya yakin Daeng-ku di barisan depan juga bisa mengerti (makanyaaaaaaaaa... belajar ko basa Indonesia, Daeng?!!!).

Khutbah selesai, Daeng datang menghampiri kami berdua. Kami saling mencium tangan dengan takzim... Maafkan isterimu ini ya, Daeng?

Lanjut dengan silaturrahim dengan yang lain... dan tentu saja: MAKAN! Ada ketupat sayur dan lontong dan teman-temannya. Cuma karena terlalu rame, kami bertiga memutuskan untuk jadi penonton saja dan hanya mengambil minuman dan sedikit buah (eh, Iman sempat dapat satu slice pizza ;) yang memang diperuntukkan buat anak-anak).

Saling menyapa... salaman... mengucap doa dan harapan. Ketemu dengan sahabat lama, teman kecilku di Makassar yang kebetulan ditugaskan di KBRI sini kurang lebih sebulan lalu. Senang juga bisa ngomong dengan logat Ujungpandang dengan Ichal dan Melda...

Sampai hampir jam setengah dua belas, kami memutuskan untuk 'cabut'. Pulang ke rumah dan bersiap untuk mengantarkan Iman ke Ibunya di Alexandria. Eh... masakanku gimana? Biasanya kan sepulang dari sholat kita makan (tradisi di rumah Ibu di Makassar)? Nanti saja for dinner, kata Daeng... soalnya kita sudah janji mo antarkan Iman sesegera mungkin.

Ketemu ibunya Iman... saling menyapa "Eid Mubarak"... dan "serah terima" anak (hehehehe). Kami berdua kemudian singgah di restoran Afghan: Food Corner Afghani Kabobs langganan kami di Vienna (Tysons Corner). Dapat sapaan bersahabat: Eid Mubarak! lagi, dari pemilik resto. Alhamdulillaah... as usual, selalu enaaaaaaaaak!

Pulang ke rumah... trus sholat Dhuhr dan nonton tv berdua. I need my nap, kataku. Semalam tidur larut ditambah mata yang agak bengkak setelah ngobrol dengan Ibu dan Ayah di telepon... mataku rasanya capeeeeeeeeeeeek sekali!

Lebaran... tanpa burasa', tanpa Ibu dan Ayah serta orang-orang tercinta di kampung halaman, serasa ada yang "hilang". Tapi tak apa... saya selalu "bawa" mereka ke manapun saya berada... disini... di hatiku... selalu!

The Kearns -- Eid ul-Fitr 1427 H

Taqobbalallaahu minnaa wa minkum...
Minal aidin wal faidzin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 Hijriyyah.
Semoga kita semua senantiasa istiqomah di jalan-Nya... Amiiiiiiiiin!

Sunday, October 22, 2006

Cerita Ramadhan

Ini bukan ceritanya si Ramadhan (hee hee), tapi ceritaku -- cerita Yaty -- tentang Ramadhan.

Besok lebaran... artinya tinggal beberapa jam lagi yang namanya bulan puasa, bulan Ramadhan akan berlalu. Sedih? Tentu saja. Bukan bulan puasa saja kalo dengar lagunya Bimbo "Setiap Habis Ramadhan", mata jadi buram karena airmata... alias maccilé (Bugis = mengalir) alias jadi cengeng lagi *hiks*.

Setiap habis Ramadhan...
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, tak terhingga nilai mahalnya...

Setiap habis Ramadhan...
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, berilah hamba kesempatan...

Setiap habis Ramadhan...
Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi, berilah hamba kesempatan...


*****************

Pindah ke Rockville membawa banyak berkah... dan sejak kami menetap di ibukota Montgomery County ini, senyum rasanya selalu tertoreh di hati dan bibirku *alhamdulillaah*. Bukan cuma rasa nyaman dan aman dengan rumah kecilku, bukan cuma karena perasaan sebagai Ibu semakin menguat dengan merasakan setiap gerakan si kecil dalam rahimku, bukan cuma karena pertautan hatiku dan Ayah anakku terasa semakin kuat, tapi juga karena di Rockville ini saya merasakan menjadi bagian dari komunitas muslim yang sama sekali tidak saya dapatkan selama setahun lebih tinggal di Alexandria. Terlebih lagi merasakan dan berbagi suasana Ramadhan bersama saudara-saudara muslim Indonesia di tanah yang begitu jauuuuh dari kampung halaman... sungguh suatu nikmat dan berkah yang diberikan Allah kepadaku dan keluarga kecilku.

Berikut adalah cerita panjangku, tentang Ramadhan yang selalu dirindu... dan yang sebentar lagi usai...

*****************

Madrasah

Setiap hari Minggu jam 3 sore, saya dan Iman diantar Daeng ke Tilden Middle School di Bethesda (kota tetangga-nya Rockville) sekitar 10 menit dari rumah, yang merupakan lokasi madrasah yang diselenggarakan oleh IMAAM. Disini, anak-anak -- mulai dari yang usia pre-K sampai remaja/teenagers dalam komunitas IMAAM belajar membaca Quran (menggunakan metode Iqra') dan juga pengetahuan Islam (Islamic Knowledge). Alhamdulillaah... meski jauh dari tanah air dan tinggal di negara yang suara adzan dari masjid pun tak pernah terdengar, semangat untuk belajar dan menjadi muslim yang baik begitu terasa disini. Yang serunya lagi... anak-anak di madrasah ini hampir sudah tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar meski raut muka 100% melayu (meski tak sedikit juga yang sudah "muka campuran" karena berasal dari ayah-ibu yang mixed-couple), sehingga bahasa pengantar yang dipakai untuk mengajar adalah bahasa Inggris. Alhamdulillaah... dengan adanya madrasah ini, Iman mulai belajar membaca Quran dan pengetahuan Islam -- yang tentu saja tidak akan mungkin dia dapatkan di sekolahnya -- dan juga belajar untuk merasakan menjadi bagian dari masyarakat muslim yang boleh dibilang minoritas disini. Sebenarnya, sudah sejak saya tiba di sini setahun lebih yang lalu, saya sudah "merengek" ke David (sampai kadang terkesan memaksa) untuk mencarikan dan memasukkan Iman ke Islamic Sunday School. Bahkan sudah beberapa kali saya utarakan betapa pentingnya pengetahuan tentang Islam buat Iman, baik kepada Baba maupun ibunya. Tapi selama itu, tidak pernah berhasil... dengan berbagai alasan yang berbeda. Akhirnya, selama setahun lebih itu, semua tergantung saya *sigh*. Mulai dari belajar membaca "bismillaah", wudhu, tata cara dan bacaan sholat, puasa, semua saya ajarkan dari nol kepada anakku itu.

Alhamdulillaah... meski penuh "perjuangan" (saya maksudkan, betul-betul PERJUANGAN!), sekarang Iman sudah tertib sholat lima waktu. Ramadhan yang lalu pun "kalla" (bukan Pak Hadji Kalla! hehehe. Ini bahasa Bugis/Makassar yang artinya "batal puasa") nya cuma 3 hari. Iman anak yang baik dan mau mendengarkan kata... asalkan dia selalu dan tidak bosannya kita meng-encourage agar dia tetap istiqomah. Sayangnya, tahun ini sejak dia tidak tinggal dengan kita lagi, dia sudah tidak bisa menghitung berapa hari puasa yang dia tinggalkan. Saya dan Ayahnya cukup kecewa... mengingat seharusnya dia bertambah baik dibanding tahun lalu. Tapi apa lah hendak dikata? Kami berdua hanya "dapat"kan dia di akhir pekan... Selebihnya, semua diluar kontrol kami. Meski dengan agak putus asa, saya jelaskan ke dia kalo dia seharusnya lebih bisa "bertahan"... apalagi tahun depan kelak insya Allah, kami yakin kalo dia sudah akan WAJIB untuk berpuasa. Paling tidak, hari yang dia tinggalkan harus dia ingat untuk menggantinya di luar Ramadhan. Ah....

Kembali ke madrasah. Hari pertama dia di madrasah, Iman sudah sangat terkesan... bahkan sangat bersemangat untuk datang lagi minggu depannya. I can't wait to go to madrasah again... they're sooooo cooooool!!! begitu katanya dengan mata berbinar-binar dalam perjalanan kami mengantarnya kembali ke rumah ibunya di Alexandria selepas sholat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama ratusan warga IMAAM. Saya dan David hanya tersenyum-senyum... sambil terus mendengar ocehannya tentang apa yang dia pelajari di hari pertamanya di madrasah, dan berusaha menghafalkan ikrar dan doa sebelum belajar yang dia dapatkan hari itu:

"rodhiytu billaahi rabban... wa bil Islami diynan... wa bi Muhammadin nabiyyan wa rasuulan..."

Suasana dan semangat di madrasah ini mengingatkan saya akan masa-masa saya dan adik-adik (Yani dan Kole) "mengaji" di madrasah Masjid Ikhtiar Kampus Unhas Baraya awal tahun 80-an. Guru-guru -- yang di dalam kelas kami panggil "ustadz" dan "ustadzah", tapi kalo di luar kelas kami memanggil mereka dengan sebutan "kakak" -- kami waktu itu semua masih mahasiswa (sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Hasanuddin dari berbagai fakultas, mulai dari Fakultas Pertanian, Kedokteran, SosPol, Teknik, sampe' Sastra; dan beberapa dari IAIN Alauddin Ujungpandang waktu itu). Berbeda dengan madrasah IMAAM yang penyelenggaraannya sekali seminggu, madrasah Ikhtiar dulu mengajinya setiap hari kecuali hari Jumat, antara waktu Maghrib sampai 'Isya. Waktunya sangat singkat memang... tapi sangat berkualitas! Materi yang diajarkan oleh ustadz/ah kami berbeda setiap harinya: Makhraj dan Ilmu Tajwid, Dasar-Dasar Pengetahuan Islam, Bahasa Arab, Tadarrus (membaca cepat tapi dengan tajwid dan tartiyl), Sejarah Islam, sampai pada membaca Al-Quran dengan indah (tilawah al-Quran). Saya sangat beruntung karena guru-guruku dulu sangat "pakar" di bidangnya. Jangan salah... kalo kami berkunjung ke asramanya "kakak-kakak"ku ini yang ada di sekitar masjid, jarang sekali dapat buku tentang agama... yang ada adalah text books-nya mahasiswa yang tebal-tebal kayak bantal! Jadi ingat buku anatomi-nya Kak Gaffar -- sekarang Dr. Abd. Gaffar, dokter teladannya Luwuk Banggai! atau buku SosPol-nya Kak Juraid -- sekarang DR. Juraid Abd. Latief -- ini guru tajwid saya --, dosen seniornya Univ. Tadulako Palu... atau buku hortikultura-nya Kak Ancu' -- Ir. Syamsur Faisal. Trus, ingat sama Kak Atik guru bahasa Arab kami yang "sekke'" (Bugis/Makassar = kejam, hehehe) karena kami bakal kena hukuman kalo tidak menghafalkan vocabulary yang sudah beliau ajarkan minggu sebelumnya. Kak Atik ini sekarang adalah "orang langka" di Sulawesi Selatan... beliau adalah doktor perempuan peneliti/anthropolog adat istiadat Bugis. Wow!!! Bangganya saya bahwa mereka semua ini adalah guru-guru saya (catatan: tidak ada istilah "bekas guru"!) yang menorehkan segudang pengetahuan yang saya junjung dan pegang sampai ajal menjemput, insya Allah! Blum lagi, guru-guru tadarrus dan tilawah yang pada waktu itu adalah qori' qori'ah ternama Sulawesi Selatan. Imam Masjid Raya Makassar sekarang, Asrar Abuckhaer adalah salah satu dari mereka. Kalo Kak Asrar memimpin sholat (jadi imam)... masya Allaaahh... cantiknya bacaan dan indahnya lantunan lagu beliau! Serasa beratus rakaat pun jadi terasa ringan kalo Kak Asrar jadi imamnya.

Waktu yang padat sepulang sekolah, trus latihan olahraga (karate) sorenya, dan kemudian balik lagi ke rumah mandi dan bersiap jalan kaki kurang lebih 2 km bolak-balik dari rumah ke Masjid Ikhtiar bagaikan tidak terasa selama saya "mengaji" di sana. Semangat dan kegembiraan menimba ilmu di madrasah seperti yang saya lihat pada Iman membangkitkan kenangan dengan madrasahku dulu. Semoga begitu selamanya... tidak cuma Ramadhan ini...

*****************

Sahur dan Buka Puasa

Tahun ini sangat beda dengan tahun lalu... mostly karena waktu lebih banyak saya dan David habiskan berdua saja karena (sebagaimana sudah saya cerita di atas) Iman hanya kami "dapat" setiap akhir pekan. Alarm HP saya setél jam 4:15 - 4:45 (mundur terus sejalan dengan mundurnya waktu imsak/subuh)... alhamdulillaah tidak pernah ada kesulitan untuk bangun. Ndak tahu kenapa... tahun ini sangat beda dengan tahun lalu. Ramadhan kali ini saya sangat bersemangat untuk bangun sholat malam/layl, rasanya ada yang jadi pemompa semangat alias cheerleader (hehehe)... mungkin si Junior ya?

Habis sholat malam, saya siapkan sahur ala bulé buat si Daeng, dan ala warteg buat saya, hehehe. Namanya juga perut Melayu... mana tahaaaaaan kalo cuma makan toast/roti dan cereal? Mesti nasi lah yauww!!! hahahahaha! Kalo Iman ada dengan kami, jadilah menu sahur ada 3 jenis: ala bulé dewasa, bulé anak-anak, dan ala Melayu! Alhamdulillaah, kami tidak pernah kesiangan sahur, David dibangunkan alarm-nya sendiri... dan kemudian doi yang punya tugas membangunkan Iman. Biasanya setelah sahur, sambil menunggu waktu subuh kami cerita-cerita, kadang berdiskusi (mulai yang ringan sampe' yang seru pake' beradu-argumen, hehehehe), ataupun sekedar bercanda dan catching up terutama dengan Iman yang menceritakan hari-harinya di sekolah pada saat dia tidak dengan kami. Setelah waktu subuh masuk, baru deh kami sholat subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan baleeeeeeeeek kanan tidur lagi! Tapi itu "berlaku" hanya untuk Daeng dan Iman... soalnya pengalaman kalo saya ikutan juga tidur dalam keadaan perut masih penuh, dijamin heartburn-ku kambuh. Aneh juga ya... seumur-umur saya paling jaraaaaaaaaaang kena yang namanya heartburn, nanti setelah hamil masuk 20 minggu-an baru deh terasa. Tapi ada bagusnya juga, karena waktu antara habis subuh sampe' sekitar jam 9 pagi (kurang lebih 3 jam setelah sahur) saya gunakan untuk tadarrus dan membaca (terjemahan) Al-Quran. Naaaah, setelah itu... baru saya ambil "jatah" tidur sampai jam 11 atau sampai waktu Dhuhr tiba ;).

Alhamdulillaah... tadi subuh, sehari sebelum Ramadhan usai, saya khatam Quran (again, tahun ini lebih banyak berkah dari tahun lalu... Ramadhan lalu saya hanya sampe' setengahnya *sigh*). Jadi ingat rumah di Makassar... semua "berlomba" untuk khatam Quran. Dulu-dulu, saya dan Ibu yang bersaing... sejak lima tahun belakangan tambah deh kompetitor: Ayah (setelah beliau pensiun, jadi ndak mikir kantor lagi... jadi ngajinya plus hafalan surah beliau jadi lancaaaaaaaaar!!!). Trus ada juga Yani... dan Kolé (yang akhir-akhir ini yakin ka' ndak sempat ki khatam... soalnya doi sibuuuuuuuuuuk teruuuuuuuuus... mengejar setoran. Eh, sopir bajaj kapang di'?! hehehe). Tadi telepon ke Ibu, dapat informasi kalo Khaerina Fathimah alias Imma (anaknya Kak Ina -- sekarang 12 tahun) juga khatam Quran selama Ramadhan ini... subhanallaah!!! "anakku" itu sudah bisa khatam seperti Tante Yaty-nya! Trus, saya bercanda ke Ibu bilang: eh Bu, ini Junior tawwa juga khatam Quran selama Ramadhan... kan Junior juga ikutan mengaji/tadarrus dengan Ibunya (a.k.a saya ;) ), hehehehe.

Berkah lainnya yang lain dari tahun lalu adalah saya dan David selalu bisa sholat berjamaah setiap waktu! Sejak kantornya "go virtual" dan si Daeng "resmi"nya berkantor di basement rumah kami, otomatis setiap waktu sholat dia mesti ktemu saya dulu, hehehehe. Bahkan selama Ramadhan ini, kami selalu pergi sholat Jumat bersama (hehehe... jadi ingat kalo di tanah air saya malah tidak pernah ikutan sholat Jumat) di salah satu community center di Gaithersburg (sekitar 10 menit dari rumah). Insya Allah, tahun-tahun mendatang (segera!) sholat Jumat-nya tidak perlu lagi ke Gaithersburg... tapi sudah di IMAAM Center... Amiiiiiiiiiiin!!!!

Buka puasa? Tidak ada yang istimewa di meja makan kami. Biasa saja... sederhana seperti biasa. Yang lain dari hari biasa diluar Ramadhan adalah kami selalu membatalkan puasa dengan korma alias dates alias karoma (Bugis) dan es buah (ini menjiplak "tradisi" di rumah Ibuku di Makassar... sejak dahulu kala selalu ada es buah -- bukannya kolak seperti yang dihidangkan di kebanyakan meja makan keluarga Indonesia untuk buka puasa). Habis itu, kami sholat Maghrib jamaah... dan setelah itu baru "makan besar". Menunya ya kadang ala Indonesia, kadang ala bulé seperti pasta/spaghetti, sampe' pizza yang kami pesan dari langganan baru kami di Rockville Pike yang pake' daging pepperoni halal ;) (tapi sekali lagi, gang -- singkatan dari "agang" berarti "teman" dalam bahasa Makassar dan sudah jadi bahasa biasa/gaul ala Ujungpandang --... kalo saya tetap ji ala Melayu, mesti dan pasti pake' nasi... hehehehe).

However, buka puasa yang istimewa dengan gaya "gotong royong" dan berame-rame plus sholat Maghrib berjamaah dengan ratusan muslim Indonesia lainnya selama Ramadhan ini kami sekeluarga lakukan di madrasah IMAAM di Tilden Middle School setiap hari Minggu sehabis kegiatan madrasah. Begini nih suasananya...

Iftar at Madrasah 1427 H

Menunggu waktu iftar/buka puasa. Ibu-ibu dan bapak-bapak siap berbuka dengan kolak dan atau es buah dan jajanan pasar ala kampung halaman, sementara anak-anak dengan donat dan jus. Lanjut makan besarnya... ibu-ibu dan bapak-bapak dengan "makan besar" ala Indonesia, sedangkan anak-anak dengan pizza dan mac and cheese ;)

Saya, David, dan Iman (plus Junior) merasa sangat beruntung bisa berbagi Ramadhan dengan keluarga besar IMAAM... salah satu berkah kami pindah ke Rockville... alhamdulillaah...

*****************

Si Junior dan bulan Ramadhan

Alhamdulillaah, anakku si Junior selama Ramadhan ini "tidak rewel" sama sekali dan sangat membantuku beribadah. Kalla ku pun "cuma" 4 hari... mostly karena saya sempat "tumbang" (emangnya pohon?! ha!) karena kena flu berat. Terimakasih sama si Ayah *sarcastic mode on*... saya terkontaminasi virus dari dia, hehehehe. Ayahnya Junior pun 3 hari tidak berpuasa karena flu (Beh! orang sini kalo kena flu betul-betul parah yak?). Kami akhirnya gantian sahur sendirian, karena pada saat dia sudah mulai puasa lagi karena berasa sudah baikan malah saya yang lagi parah-parahnya itu virus menyerang. Untungnya si kakak Iman akhir pekan itu tidak dengan kita... jadi doi tidak ketularan. Kami juga missed madrasah minggu itu. Ya, daripada orang-orang di madrasah terkontaminasi flu gara-gara kita, mending kita berdua meng-karantina-kan diri di rumah saja, iya kan? Syukur alhamdulillaah karena flu tidak 'tinggal' lama... soalnya lumayan tersiksa lah karena tidak bisa mengkonsumsi obat flu selama hamil begini. Kebiasaanku untuk minum air putih banyak-banyak juga sangat membantu proses penyembuhan dari flu kemarin itu.

Kunjungan ke Dr. Fauzia juga cukup melegakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kalo meskipun saya puasa penuh, si Junior tidak terpengaruh dan alhamdulillaah anakku tumbuh sehat dan pertumbuhannya normal. Saya pun selama puasa tidak merasa lemas (kecuali hari ketiga Ramadhan, waktu itu saya ikut ke kantornya David -- it's the last day sebelum go virtual -- dan berasa lemas menjelang siang... jadinya saya ikut makan siang bareng teman-teman kantornya David... sedangkan David tetap berpuasa).

22 weeks 3 days

Tetap ceria toh?!... meski lagi berpuasa ;)

Untukmu anakku, Ibu bisikkan kata-kata penuh sayang...


"Ibu benar-benar bangga padamu, Nak! Ko bantu Ibu untuk tetap tegar beribadah... malah ko jadi semangat bagi Ibu untuk beribadah maksimal di bulan Ramadhan ini. Makasih ya, Nak..."

Ah... ini menjelang tengah malam berganti ke tanggal 23 Oktober. Tadi di madrasah, selepas iftar dan sholat Maghrib, takbir dilantunkan (lengkap dengan "beduk"nya)... airmata menetes satu-satu... 1 Syawwal tiba, Ramadhan berlalu...

Allaahu akbar... Allaahu akbar... Allaahu akbar
Laa ilaaha illaa Allah... Allaahu akbar...
Allaahu akbar wa lillaahil-hamd...

Bau harum masakanku semerbak memenuhi rumah kecil kami. Saya bikin ketupat pandan (meski dalam plastik), rendang, kari lamb, sate ayam, dan acar timun. Tahun lalu tak sempat bikin apa-apa. Senyum bercampur haru dengan mata berkaca... sambil berbisik ke diri sendiri: "it's not that bad... at least malam lebaran I could feel a 'lil bit of rumah Ibu in here..."

Tertegun sejenak... ada SMS masuk. Rupanya dari Ibu... Ah, Ibu dengar kah tadi bisikanku itu?

"Slmt IDULFITRI maaf lahirbatin,
sdh 2thn kau tdk idul bsm kami tp kalian slalu dihadirkan dlm percakapn kami, plkcium ibu utk kalian."

Tangisku tumpah. Tak tahan akhirnya telepon ke rumah... yang angkat Ibu. Kedengaran dari belakang, di rumah rameeeee sekali... Setelah mengucap salam, tangis tak lagi terbendung. David yang ada di ruang tengah setengah berlari menghampiri dan memelukku sayang.

Ramadhan sudah selesai, tapi rindu itu tidak pernah usai...
Semoga diberi kesempatan bertemu Ramadhan lagi...
Tak sabar bertemu Ramadhan tahun depan...
dan berada di pelukan Ibu dan Ayah,
serta wanginya burasa' di malam lebaran di Datuk Ribandang...