Thursday, April 27, 2006

Weblog and I

*Whew* akhirnya kena "hasutan"nya Imran untuk punya blog di luar Friendster yang membolehkan non-member untuk ikut berpartisipasi kasih komen. Setelah 'shopping around', eh jadi ingat kalo saya punya account di blogspot (blogger) sejak tahun 2004 yang tidak sempat saya aktifkan blog-nya karena my lovey hubby waktu itu sudah menyediakan space di domain yang dia punya di geekprime.com. Jadinya, SKY -- Yaty's Place jadi weblog-ku yang pertama (for you who know me in person would know for sure the meaning of "SKY" there, hee hee). Awalnya rajiiiiiiiiiiin sekali nulis terutama sebagai sarana untuk 'tukar informasi' -- selain telepon dan chatting -- dengan David. Tapi karena beberapa hal (yang agak rumit kalo saya cerita di sini), saya mengalami 'kemacétan' luar biasa (hahaha) meng-update apalagi setelah saya tiba di Alexandria ("hijrah" dari kampung halaman Ujungpandang ke sini dan "hijrah" dari status single jadi double -- ukuran ranjang kapang?! eits!!! -- membutuhkan banyak waktu dan energi untuk adaptasi dan kompromi). Bukannya alasammaté ("alasan yang tidak beralasan", hehehehe), tapi memang begitulah kondisinya.

"Pergaulan"ku dengan FS juga diawali dengan 'hasutan', hehehehe. Sebenarnya sudah lama juga banyak yang invited me untuk join FS... tapi ternyata adik angkatanku di Kelautan, Khirlan, yang berhasil, hehehehe. Setelah observing sana sini, ternyata ok juga. Jadilah weblog-ku, My Simple Life, yang kedua yang saya punya. Lewat blog dan FS itu, saya jadi banyak kontak dengan teman-teman yang membuat saya tetap "bersentuhan" dengan Ujungpandang alias Makassar yang selalu saya rindu. Seperti jaring laba-laba alias web, setiap thread menghubungkan saya dengan banyak hal yang saya rindukan, menjerat saya dengan pesona kampung halaman, dan kharisma dialek Ujungpandang (mi pi ji ki' di'... dst) yang tidak bisa saya "praktek" kan disini dengan dua orang tercintaku: Iman dan David. I'm stuck here with two Americans who can't speak in bahasa Indonesia... especially with Ujungpandang dialect, hehehehe. Cuma karena di FS ini saya pake' bahasa Indonesia (campur-campur juga... dengan banyak 'slang' dialek Ujungpandang), David kadang mengeluh karena tidak mengerti (and I ended up explaining to him, lol)... manalagi dia terlalu percaya dengan kamus online yang tentu saja tidak dapat rekomendasi bagus dariku (karena suka aneh kalo diartikan dalam bentuk kalimat), hehehehe.

Sebenarnya, saya cukup puas dengan my FS weblog... terutama karena layout dan desainnya yang sederhana/simple (sesuai dengan judulnya, hehehehe). But my chat with Imran the other day tentang blog yang "sekke'" alias pelit karena non-member tidak bisa posting comments, I think it makes sense to move on and try other 'providers' that's not that sekke'! Seingat saya, blogspot dulu juga punya kebijakan seperti itu (well, go figure! that's why I got my account at blogspot at the first place :) )... tapi entah sejak kapan itu berubah dan lebih 'open minded' untuk membolehkan pembaca blog memberi komentar meskipun mereka bukan member blogspot... which I think it's pretty darn cool! Ditambah lagi, hasil browsing, saya berhasil dapat desain blogspot yang persis sama dengan yang di FS. So, cool-lah! I know it's kinda tyring to keep changing blogs... but I think it's fair to give it a shot! I'm not a sekke' person... and I don't want my blog to be sekke, either :). Saya mo coba untuk menulis di dua blog ini dengan materi yang persis sama (ya... main copy and paste saja) supaya temans dan keluarga bisa kasih komen, baik itu yang member maupun non-member FS. So, what do you think?

Ah, semoga Friendster bisa lebih 'open minded' di'?! Or is this just my wishful thinking?

Monday, April 24, 2006

What spring brings...

Mengamati setiap kali pergantian musim selalu menyenangkan. Ini merupakan spring atau musim semi pertama saya di kampungnya George Washington. Meskipun tidak 'sedrastis' seperti Toronto (sekedar cerita, kalo di Toronto, musim semi betul-betul 'kelihatan' beda dengan winter, kalo boleh dibilang "berbeda nyata", hehehehe... jadi ingat Statistik. Saya takjub menyaksikan dari hamparan putih salju ada "titik" hijau muncul, karena di TO biasanya awal spring masih saja turun salju. Sedangkan di sini? selama winter pun rumput masih tetap "kelihatan" hijau. Kalaupun turun salju, paling banter hanya beberapa inchi saja... itupun tidak bertahan lama karena udara di sini "terlalu hangat" untuk salju tidak lumer), tapi tetap saja saya amazed dengan buttercup and other wild plants that spring brings (I took some pics when I went to the park with Iman a few weeks ago).


What else that spring brings? Bunga-bunga mulai bermekaran, halaman rumah kembali tertata indah dengan aneka bunga (semua pada excited beli pupuk, bibit, dsb... Home Depot "panen" pembeli), dogwood flower (putih dan pink) akhirnya "tampil" dimana-mana, orang-orang mulai pake' "baju minim" kesayangan (alias baju palopo = paccinikkang lobang pocci'na -- Bahasa Makassar dan slang anak muda di Makassar = memperlihatkan puser/pusat/navel) dan sandal (pakaian dan jaket tebal digudangkan dan dilupakan untuk sementara -- sampai hawa winter mulai terasa lagi), taman senantiasa penuh dengan orang-orang yang berpiknik, DC metro area penuh turis (apalagi waktu spring break kemarin!), dan pohon-pohon mulai hijau... mulai berbunga... terutama pohon Oak... dengan serbuk sari alias pollen-nya! HAH! And because of that, I shouted:

"I - HATE - SPRING!!!!"

I know... I know. "hate" is a very strong word, and definitely not nice to say and (for sure) to feel. But spring brings a very very nasty ALLERGY to me!!! Sejak lahir dan besar di Makassar (yang polusinya mulai mengkhawatirkan... kata orang)... trus 2 tahun (2 springs) di Toronto, yang namanya pollen dan alergi debu tidak pernah saya alami (kecuali alergi gatal-gatal gara-gara terlalu balala kebanyakan makan udang... ages ago!). Yup, bukan cuma pollen, I just discovered that I'm also allergic to dust mites alias kutu debu (in winter... that everytime the heater's on, I cough and cough and cough...). Now that the heater's off, and it's time to open the window and the enjoy the fresh air (Nooooo! it's not "fresh" AT ALL! It's contaminated with that darn stupid pollen!)... but NO, I couldn't do that coz the oak tree is there... right in front of our balcony and in front of our bedroom window... super happy to spread its remarkable pollen! Terrific! It's just super awesome... I'm not only have an indoor, but also outdoor allergies! (*sigh* now I'm being sarcastic... another David's bad influence!).
The darn Oak tree in front of our balcony... sumber masalahku. When I mentioned about this to David's friend, he suggested me to sneak at night and cut it down... and blame, who? lol.

Awalnya, saya kira cuma flu biasa... eventhough first time I sneezed, Iman kontan bilang: it's allergy! Satu minggu lewat, 'pilek' ku tidak kunjung sembuh. Setiap hari (maaf) ingus masih tetap saja kayak air, mataku sangat sangat gatal dan berair (I couldn't help rubbing my eyes all the time! akibatnya kulit sekitar mata jadi iritasi bahkan saya 'cakar' secara tidak sengaja *sigh*), hidung tersumbat setiap saat sampai tidurpun rasanya susah... and I could go on and on and on. Sebenarnya saya paling tidak suka mengeluh... malah saya suka ballisi' sama orang yang suka mengeluh. But this allergy's been killin' me!

Yang saya kasihan malah David. Dia frustrasi lihat saya merana. Semua obat alergi yang ada di lemari dicobakan semua ke saya. Yang lebih kasihan lagi karena saya TIDAK SUKA (minum) OBAT... maka bertambah tambahlah frustrasinya dia. Bukannya karena keras kepala saya tidak mo minum obat... I have my own reason. Mungkin karena jarang sekali mengkonsumsi obat (kalo pilek berat pun, saya sebisanya makan lebih baik dan istirahat lebih sampe' akhirnya sembuh... but this allergies don't go away that easy. Darn it!), tubuhku sering bereaksi 'over' kalo saya minum obat. Contohnya saja, obat pertama yang dikasih David katanya 'non drowsy'... tapi begitu habis minum "cuma" 1/2 biji (ini dosis anak 12 tahun!), 15 menit kemudian saya langsung KO. Yup, that medicine knocked me out! David masih ngomong (waktu itu kita ngobrol di couch sambil nonton tv), saya sudah "cherioooo". Hehehehe... awalnya dia kira saya bercanda... ternyata memang KO! Saking serunya, itu kotak obat David tandai dengan spidol: "KO" supaya saya tahu obat mana yang terlalu 'strong' reaksinya buat saya.







Setiap buka lemari obat, saya selalu ketawa sendiri lihat kotak obat yang ini... hehe

Sampe' saya coba lagi obat lain... tapi semuanya cuma temporarily ease the symptoms. Akhirnya saya mengalah... mostly karena kasihan sama suamiku yang frustrasi lihat saya menderita gara-gara alergi ini. Ok ok... minggu depan bikin janji ketemu dokter minta saran obat apa yang aman buatku. Ugh, and I don't like go to the doctor, either! Wey???!!! apa maumu, Yaty????!!!!

I open the weather.com... Astaghfirullaah... penderitaanku tidak akan berakhir sampai paling tidak sampai awal Juni. Malah hari ini ada Pollen Alerts for Alexandria: the pollen forecast for your local area is VERY HIGH.

I know I should not say that strong word (hate) again. But I definitely can say:

I (really really really) DON'T LIKE SPRING!!!!!!

And I really mean it!!!!

Wednesday, April 19, 2006

Cabbiya...

Beberapa malam lalu, seperti jadi ritual kami berdua nonton The Colbert Report. Kali ini bintang tamu yang diwawancarai adalah Reza Aslan, pengarang buku "No God but God" (Catatan: kalo diterjemahkan secara literally ke dalam bahasa Arab merupakan kalimat tahlil: "Laa ilaah illaa Allah"). He's really GOOD! Secara spontan, sa langsung bilang ke David:

"Oh my! I love this guy!!!"

Whoopss! David langsung terbelalak dan bilang: "Whaaaat???" sambil bergaya cabbiya (Bugis = merengut; seperti kalo akan menangis -- bibir bawah dimonyongkan). Saya ketawa. Sambil merapatkan tubuh ke yang tercinta, saya cubit bibir bawah yang dia monyongkan dan bilang kalo dia (akan selalu, insya Allah) jadi yang terbaik... karena dia yang dipilihkan Allah untukku. Trus, saya jelaskan kalo orang (baik itu laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa) yang pintar dan cerdas (terutama masalah Agama, seperti Reza ini) selalu membuat saya "jatuh cinta"...

Pertama kali "lihat" Reza Aslan di tv, trus browsing the net, kemudian baca review bukunya (can't wait to read it meself!), trus lihat di tv lagi... sampe' kemudian diwawancarai sama Stephen Colbert beberapa malam itu. Coba lihat rekaman videonya... saya dan David sampe' ketawa terbahak-bahak karena si Stephen "kena batunya" (biasanya bintang tamu yang diwawancarai yang "kena") karena jawaban dia terhadap "banyolan" (sindiran?) Stephen dia timpali dengan cerdas (David berkomentar memuji: he's quick!). Saya sangat bangga (dalam konteks yang positif -- tanpa bermaksud riya') dengan orang-orang seperti Reza ini... punya pengetahuan yang dalam tentang Islam dan "membela" Islam tanpa harus "angkat senjata".




Picture's taken from:
http://www.comedycentral.com/images/shows/colbert_report

Of course, cabbiya-nya David tidak lama... dasar goofball!

You know what, Honey? Salah satu yang bikin saya jatuh cinta padamu adalah karena meski "baru" 12 tahun menjadi muslim, ko pintar dan cerdas (kelihatan kalo kita diskusi, sejak pertama kenal sampe' sekarang) mengenai agama sampe' saya menjulukimu BULUS (BUlé tapi UStadz ), menjalankan perintah agama (it's always touching me when we're "sholating" jama'ah, especially Subuh time)... and I'm sooo proud of you! You're always be the best, Honey... and I LOVE you, insha Allah... forever!

Thursday, April 06, 2006

Kritik tanda sayang

Akhir-akhir ini, saya jadi sering ikutan David nonton talk show (mostly about politics) di Comedy Central channel: The Daily Show with Jon Stewart dan The Colbert Report... dan kayaknya jadi ketagihan nonton dan tidak sabar untuk lihat episode besoknya. Mereka tuh membicarakan politik seperti tanpa beban (memang harus begitu kalo meng-klaim ini negara menganut faham demokrasi dengan pers-bebas). Mengolok-olok presiden dan para anggota kongres yang terhormat merupakan bagian yang tidak pernah terlupakan dalam setiap episodenya. Sangat menarik!

Mengapa saya bilang sangat menarik? Coba saja bandingkan dengan melihat kasus pelecehan presiden (Megawati, waktu itu) beberapa waktu lalu di negara kita. Seandainya itu (berlaku) di sini, si Jon Stewart dan si 'narcist' (hehehehe) Stephen Colbert pastilah sudah jadi penghuni hotel rodeo berbintang lima (pake' plus lagi!). Apalagi waktu jaman Pak Harto dulu... walaaaah... both of them pasti sudah "lenyap tanpa bekas" (yang biarpun agen CSI paling top kayak Grissom tak bakalan bisa melacak trace-nya, hahahahaha!). Yang lebih menarik lagi, seringkali habis mengolok-olok (kadang malah kesannya lebih jahat lagi), "oknum" yang diolok kemudian jadi bintang tamu yang diwawancarai pada episode berikutnya (lihat episode bintang tamu: Sharon Stone dan Senator John McCain). Pers-bebas dan bertanggungjawab! Yang dikritik dan mengkritik... sama bertanggung jawab (dan yang jelas bukan "jawaban tanggung", hehehehehe).

Saya jadi penasaran... apa Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI kita serta para wakil rakyat bisa terima dengan hati lapang kalau dikritik (baca: diolok-olok) seperti halnya disini? Apa para wartawan kita bisa dengan "lapang"nya menulis dan berani bertanggungjawab (dalam hal ini menulis dengan resources yang jelas dan terbuka) seperti pers di sini? Mmmmm....

Semalam saya marah besar. Waktu menyuruh
Iman untuk siap-siap tidur (ya wudhu, gosok gigi, menyisir, sholat isya, dst) dan mengingatkan kalo sekarang sudah jam 9:15 (jam tidurnya seharusnya 8:30!), dia balas (seenaknya) dengan "it's not 9:15... it's 9:13!", saya jadi naik darah. Saya bilang, it's not the point! dan kalo saya jadi kamu dan bilang begitu ke ibuku, saya pasti sudah dihukum seumur hidup. It's totally rude dan dosa kalo anak ngomong ke orangtua ma'bali-bali (Bahasa Bugis = membantah dengan tidak sopan)... kesannya sangat patoa-toai (Bahasa Makassar = mengolok-olok)!

Nah, kalo pers (wartawan) dalam hal ini "anak" patoa-toai ke para petinggi negara seperti presiden dan wakil rakyat sebagai "orangtua"... apa si "anak" kena hukuman ya?

Wait... did I say "wakil rakyat"??? Ah... then it's fine. Mereka wakil kita kok... pembawa aspirasi kita... jadi ndak 'papa kalo kita patoa-toai ke mereka. Bukankah kalo mereka 'meléncéng' dan tidak mewakili kemauan/aspirasi kita, kita perlu melakukan sesuatu? Yaaah... bukankah patoa-toai juga salah satu "alat" untuk menegur atau mengingatkan? Cuma, bagaimana caranya supaya bisa lebih banyak belajar untuk memilih metode yang tepat dalam menegur... dan tentu saja... dengan penuh tanggung jawab.

IMHO, saling kontrol merupakan salah satu metode yang sangat jitu untuk bisa tetap "on the right track". Kata orang bijak, kritik itu tanda sayang. Belajar menerima kritik dengan harapan bisa menjadi lebih baik di masa datang memang "ok punya"... tapi kenyataannya? perlu waktu yang panjang untuk bisa tersenyum (dan kemudian introspeksi) bila mendengar orang memperolok-olok kita. Jadi ingat kasus kartun jahat tentang Rasulullaah saw beberapa waktu lalu. Ah, seandainya Rasulullaah saw ada di sini, beliau pasti cuma tersenyum sama si kartunis. Bahkan mungkin beliau akan mengirimkan satu set alat gambar yang terbaik agar si kartunis bisa lebih 'berkarya' (bukannya berkarya yang 'jahat')... bukannya marah membabi-buta (malah dengan kekerasan) bukan kepalang seperti reaksi saudara muslim sedunia yang banyak kita lihat di tv dan media cetak.

Ingat kisah Rasulullaah saw dengan tetangganya yang orang Yahudi? I remember an article than David gave to me long ago. Yes,
Membalas kritikan dengan senyum dan membuktikan (apa yang diolok-olokkan itu tidak benar) dengan tindakan positif seperti teladan Rasulullaah saw adalah sangat sangat indah. Nah, itu artinya... kritik itu tanda sayang ...

Ah... episode nanti malam (Jon Stewart dan Stephen Colbert's) tentang apa ya?

Monday, April 03, 2006

Hanami

It's not my first hanami ever (well, not really a "hanami" like in Japan... but considering it's hanami which literally means "flower viewing" -- hana = flower; mi = watch, see, view -- I could say that yes, it's hanami ). I went to see sakura years back in High Park, Toronto with my bestfriend, Tigin.


Yes, today I had a better hanami in downtown DC (got off at the Museum of Natural History to buy that cute "cherry blossom" t-shirt , then walked along the Mall towards Washington Monument and then end up at the Jefferson Memorial... such a loooong walk, eh?). It wasn't really a great day to view sakura... it was soooo overcast! I had to put my camera on "flash mode" all the time to get a better result... But it's cool 'coz I brought some spare batteries, JIC.

To see the pictures, visit my set at Flickr: Sakura -- Spring 2006

Jefferson Memorial and Sakura..

And then around 1pm... here comes the rain! Time to go home...

Ugh, now I feel soooo tired. Both my legs are sooo sore due to such a looong walk today. I'm sooo out of shape ... mulai battala' karena keenakan tinggal di rumah. Oh well... it's time to start exercising again! :)

Sunday, April 02, 2006

DST

5:30 am. My cell alarm went off dengan pe-de-nya. Aaaaahhh... dengan mata masih setengah tertutup, sa ke washroom dan mulai berwudhu. Akhir-akhir ini kami berdua selalu dapat sholat Subuh di "ujung" alias sedikiiiiit lagi waktu subuh sudah expired. Makanya sejak minggu lalu saya setél alarm di HP dan tidak mo lagi dapat "ujung". Selesai wudhu, saya bangunkan si Daeng yang masih nyenyak tidur, " Honey, wake up... time to pray... we're almost late!". Tidak sulit membangunkan David. Dan dengan mata masih tertutup, dia bilang kalo blum masuk waktu Subuh, not in 10 minutes, he says. Whaaat? Tapi ini sudah 5:30! Sebentar lagi waktu subuh 'habis'! Sambil membuka mata (dengan malas), David meraih smartphone-nya dan memperlihatkan ke saya kalo waktu subuh sekarang masuk 5:38 dan berakhir sebelum jam 7 pagi. Masih bingung, saya melihat ke jendela. Ah, masih gelap sekali! But... but... but...


It's Daylight Saving Time! Yup... it's time to spring forward one hour. Pantasan komputer David di kamar kami tidak "adzan".

David bangkit untuk berwudhu, dan HP and our computers (mine's in the living room) mulai mengalunkan adzan. Alhamdulillaah... setelah sholat subuh berdua, kami balik lagi tidur... nikmati hari terakhir bermalas-malasan sebelum tiba hari sibuk besok.

Jadi, sekarang beda waktu Alexandria dan Makassar pas 12 jam, dan dengan Adelaide 14.5 jam (betulkah, Kak Ina?). Ah... jadi rindu Makassar... rindu Ibu dan Ayah. Rindu Attong... rindu semuanya...

Homesick... homesick... *hiks* *hiks*

Saturday, April 01, 2006

Sakura

Hari pertama di bulan April 2006. Kami berdua (weekend ini Iman lagi tidak dengan kita) akhirnya sempat juga ke downtown untuk lihat cherry blossom alias sakura. But... it was such a pain to find a parking spot! Mulai dari National Monument atau monumen "pensil" (istilahnya Iman), Jefferson Memorial, sampe' East Potomac Park... ededeeeeeeh... susahnya cari tempat parkir... semuanya PENUH! David sudah mulai mi koro-koroang. Alhamdulillaah, akhirnya setelah sampe' mutar di Haines Point kita dapat juga tempat parkir.

Ooooiiiiii... cantiknyaaaaaa!!!! Ini dia....


Di bagian East Potomac Park ini tidak begitu banyak turis (baik lokal maupun internasional) seperti di Jefferson Memorial. Sambil jalan menyusuri tepi sungai (kita lihat pasangan separuh baya orang India yang lagi asyik memancing), kami berdua menikmati indahnya sakura di sekeliling kami. Ah, ternyata tidak perlu sampe' ke Jepang kalo mo lihat sakura. Still... bagaimana di' suasana Hanami di kampungnya Aki?


Karena tertarik untuk tahu jenis-jenis sakura yang ada di DC, David print-kan ka' Cherry Tree Map. Berdasarkan map itu, ada 12 species (plus varietas). Meskipun belum sempat melihat satu-satu, dan dengan mata awam cuma sempat lihat dan mengambil gambar sakura yang putih dan merahjambu (lihat gambar di atas), rasanya puas deh... for now . Senin nanti mo ikutan David kalo dia ke kantor dan jalan sendiri ke Jefferson Memorial... hopefully to see more the beauty of sakura. Sambil jalan menuju mobil, saya bilang ke David... seandainya Iman ada dengan kita, pasti deh dia sudah menyanyi lagu Sakura dengan suara fals-nya ;)

Sakura... sakura, yayoi no sorawa
Mi wa tatsu kagiri
Kasumika kumoka
Nioizo izuru
Izaya, izaya, mi ni yu kaa-n