Wednesday, December 19, 2007

What a day!

Sebenarnya saya adalah orang yang paling heboh (baca: bahagia) kalo bertemu dengan sesama muka "serumpun" bangsa Melayu di rantau. Tidak cuma di Amerika sini, tapi juga waktu sekolah di Toronto dulu. Rasanya gimanaaaa gitu... kayak ada teman senasib berada jauh dari kampung halaman dan kerinduan akan tanah Melayu (baca: Indonesia) seakan terlepaskan sejenak. Tidak seperti di Toronto yang kalo ketemu saudara serumpun baik dari Indonesia maupun negara tetangga selalu "manis" dan biasanya berakhir dengan persahabatan, di sini tidak cuma sekali saya mendapatkan "janjang birrisik" (Bahasa Makassar = tatapan tidak bersahabat; unfriendly look) dari "saudara" sesama bangsa Melayu. Ah... sedihnya...

Seharian tadi, saya dan David berpuasa sunnah Arafah menyambut Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. It went very well (alhamdulillaah)... kami berdua sama sekali tidak lemes, dan karena hari "pendek" laparnya tidak begitu terasa. Pada saat sedang berbuka puasa, kami dapat berita darurat kalo Iman tidak ada yang menjemput dari sekolah (ibunya dapat musibah kecelakaan kemarin - mobilnya ditabrak dari belakang pada saat dalam perjalanan menuju ke kantor). Jadilah saya berpakaian seadanya (pake' jilbabku yang paling gampang dikenakan) sambil mempersiapkan Zahra untuk ikutan (kalo tidak ikut, sama siapa mi di rumah? hehehe) menjemput kakaknya di Alexandria. Setelah sholat Maghrib kami bertiga "cabut" dari Rockville siap-siap menghadapi kemacetan "rush hour" di Beltway; dan sebelum "after school program"nya Iman selesai kami sudah berada di sana (hampir 1 jam kami tertahan macet di jalan!). Not so bad lah... at least we were there on time to pick her up :). Habis itu, kami mampir di apartemen ibunya Iman untuk menengok sekalian mengambil beberapa perlengkapan yang Iman perlukan untuk sholat Eid besok (rencana awalnya, dia dengan Ibunya pada saat lebaran... tapi karena musibah kecelakaan itu jadinya dia dengan kami).

Singkat cerita, dalam perjalanan pulang kembali ke Rockville, kami singgah di Food Corner (restoran Afghani Kabab) untuk makan malam. Seharian berpuasa, kami belum sempat makan apapun selain minum air pada saat berbuka. Lagipula tempat ini merupakan salah satu restoran favorit kami. We love the place... mostly because the food is yummy and the owner is muslim (semua dagingnya halal) dan pemiliknya sudah kami kenal dan mengenal kami dengan baik (langgananki' sambalu'! hehehe). Pada saat selesai memesan makanan, masuk satu keluarga yang mukanya muka Melayu, sepasang suami isteri (isterinya berjilbab juga) dan lima orang anak. Wah, saya tidak bisa menahan rasa girang... senyum lebarku sudah mengambang duluan. Kalo lihat 'gesture'nya, saya menebak mereka pasti orang Malaysia. Benar dugaanku... Pada saat kami duduk dan saya mempersiapkan Zahra untuk makan, dua orang anak lelaki mereka melambaikan tangan ke Zahra. Ah, alhamdulillaah... mereka ramah, pikirku (sambil terus tersenyum dan menyuruh Zahra melambaikan tangan ke mereka).

"Orang Indon?" tanya si Bapak.

"Iya"... senyumku tambah lebar. Ah, nassami mereka orang Malaysia! Biasanya saudara serumpun dari Malaysia menyebut orang Indonesia dengan sebutan "Indon" instead of Indo atau Indonesia.

"Sudah lama di sini?" kata si Bapak lagi. "Hampir 3 tahun" jawabku. Itu... (sambil menunjuk tempat duduk David -- waktu itu David lagi mengambil makanan pesanan kami) majikan?"

Senyumku berubah jadi senyum paccé (Bahasa Makassar = kecut)... tapi kemudian entah darimana kemana, datangki malaikatku (hehehe). Senyum yang kecut tadi berubah jadi senyum manis seperti sebelumnya dan menjawab ringan dengan hati lapang: "Suami".

"Oh" kata si Bapak. "Oops..." kata si Ibu yang pake' jilbab.

Mereka kemudian terdiam (dan agak salah tingkah) dan balik mengurus dan bercengkerama dengan anak-anak mereka. Saya kembali ke aktifitas menyuap Zahra. Tidak satupun keluar kata maaf dari mulut mereka.... meskipun secara jujur saya memang tidak mengharapkan itu.

Begitu David muncul, saya langsung bilang: "Honey, they are Malaysian". David tersenyum dan memberi salam "Assalaamu'alaykum", yang dibalas langsung oleh si Bapak. Trus, berbasa-basi dia tanya apa Iman dan Zahra anak-anakku. Iya, kataku. Weleh... jangan sampe' dikira bukan pembantu tapi babysitter! Whoa!!!

"Di sini, saya yang majikan," kata saya kepada mereka begitu David duduk. "In Indonesia, I work for the government... tapi di sini saya majikan dia" sambung saya lagi sambil tersenyum lebar. Tanpa memperhatikan reaksi mereka (yang jelas, waktu saya bilang begitu, mereka melihat dan mendengar saya dengan jelas -- kami berseberangan meja), saya dengan damainya balik menyuapi dan main dengan Zahra lagi.

Selesai makan dan beranjak keluar, saya sempatkan menggendong Zahra dan mampir ke meja keluarga "saudara serumpun" itu dan mengucapkan "Selamat Hari Raya" dan bercakap sejenak. Mereka kelihatan agak sungkan juga (mungkin masih merasa tidak enak sudah berasumsi kalo saya ini pembantu-nya si "bulé'", hahaha).

Di mobil, saya ceritakan semua ke David. Saya bilang, alangkah nikmatnya berbesar dan berlapang hati pada saat orang memandang kita tidak dengan husnu-zhon (prasangka yang baik). Rasanya enaaaaaaaaaaaak betul!

You should see when years ago someone asked me if I was a maid or treat me like one, kataku ke suaminda tercintaku. I would just go mad and make them "pay" for what they did. At least, some lectures and tatapan sangar (yang kalo istilahnya David: samurai look -- mukaku kalo lagi marah, hahaha) would do... and it's a must! Kalo tidak, saya bisa koro-koroang berhari-hari (kalo tidak terlampiaskan "menyemprot" orang yang memandang rendah ke saya).

Well, I guess umur juga berperan dalam bersikap lebih dan makin bijaksana *senyum*. Tapi terus terang, saya masih bertanya-tanya. Apa yang membuat si Bapak mengambil kesimpulan kalo saya ini "pembantu" alias David itu majikanku? Apa karena pakaianku yang seadanya? Jelasmi (baca: sudah jelas) bukan karena jilbabku, karena si Ibu juga berjilbab meskipun tidak seperti jilbabku yang "jilbab anak TK Quran yang mudah dipake' dan tidak fancy seperti jilbab si Ibu.

Bukankah tidak seharusnya kita menilai seseorang dari "pakaian luar"nya? Apalagi dalam Islam, semua orang kedudukannya sama di mata Allah... yang membedakan adalah tingkat ketakwaan dan ketaatan kita kepada-Nya.

Dan bukankah Rasulullaah SAW memberikan teladan contoh kepada ummatnya untuk selalu berprasangka yang terbaik terhadap setiap sesuatu?

Atau betulkah apa yang saya baca beberapa waktu lalu mengenai orang Malaysia yang selalu memandang rendah orang Indonesia karena pengalaman di negeri mereka orang Indonesia adalah pekerja kasar dan imigran tidak sah (illegal)? Sampai salah satu keluarga Indonesia yang diplomat ataupun pebisnis di Malaysia mereka perlakukan tidak layak karena mereka kira imigran dan pekerja gelap?

Atau mungkin sangat aneh kelihatan melihat perempuan Melayu bersama dengan lelaki bulé? Well, akan sangat aneh kalo ada muslim yang menganggap itu "tidak lazim". Bukankah di dalam Quran Mulia Allah berfirman di Surah Al-Hujurat ayat 13:

"O mankind! We have indeed created you from one man and one woman, and have made you into various nations and tribes so that you may know one another; indeed the more honourable among you, in the sight of Allah, is one who is more pious among you; indeed Allah is All Knowing, All Aware."

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan dirimu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal; sesungguhnya yang termulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal."

Banyak lagi "Bukankah?" dan "Apakah?" yang memenuhi kepalaku. Dan setiap dua kata tanya itu muncul, saya selalu berusaha mencari jawaban kira-kira yang mana yang mungkin cocok. Pada akhirnya, saya berkesimpulan (dan ini menjadi bahan diskusi saya dengan suami) kalo tidak semua pertanyaan tersebut harus punya jawaban. Tiap orang berbeda dalam memandang dan menilai sesuatu. Dan semuanya berpulang pada diri saya sendiri untuk menyikapinya. Apakah akan bertingkah laku yang sama dengan berasumsi terhadap sesuatu atau seseorang, atau membiarkannya sebagai "cambuk" untuk menjadi lebih bijak dan lebih baik dan lebih baik lagi. Yang pasti, apapun itu, selalu lah berprasangka yang baik dan menyikapi sesuatu dengan lapang dada, Yaty! Disangka pembantu pun tak mengapa... asalkan "pembantu" yang taat kepada Sang Majikan, Sang Pencipta. Iyo toh? *wink*. Pengalaman hari ini tidak membuat saya jadi "anti senyum" kalo ketemu dengan sesama bangsa Melayu. Disikapi dengan baik ataupun tidak, that's not my business. Yang jelas, saya akan tetap berusaha untuk seperti yang sekarang: tidak kapok untuk ramah dan tersenyum meski belakangnya disangka pembantu, hahaha!!!

What a day!

Besok kami berempat (saya, David dan kedua anak perempuan kami) akan ke downtown DC untuk sholat Idul Adha di new DC Convention Center. Insya Allah tinggalkan rumah menuju stasiun kereta (metro subway) jam 8 pagi. Semua perlengkapan kedua anakku sudah siap... termasuk pakaian serta makan pagi dan makan siangnya Zahra sudah saya pack siap untuk dimasukkan ke tas besok. Ah, bahagianya!!! Meski terselip juga rasa rindu untuk (kembali) berlebaran dengan Ayah dan Ibu dan keluarga tercinta di Makassar. Come on, Yaty... don't be greedy... kan sudah mi lebaran Idul Fitri kemarin? Eh, bisa ji berharap toh? hehehe.

Dan pada akhirnya, sebelum berangkat tidur, saya sekeluarga mengucapkan kepada sesama muslim sedunia di manapun berada:

Idul Adha 1428H

Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 Hijriyyah
Semoga kita dapat meneladani ketaatan Bapak Ibrahim 'alayhissalaam dan putranya Isma'il alayhissalaam kepada Sang Khalik... dan semoga kita menjadi insan yang lebih baik setiap hari hingga saatnya tiba menghadap-Nya... Aamiin!

Thursday, December 06, 2007

Musim dingin tiba!

Salju pertama untuk musim dingin kali ini akhirnya datang juga dan langsung heboh! Kemarin, pada saat Zahra pas berusia 10 bulan, selepas sholat Subuh dan beres-beres sebentar, saya sempat mengambil gambar flurries (= gerimis-nya salju) yang turun dengan pelan tapi pasti... dan tidak berhenti sampai menjelang Maghrib pada saat saya mengambil gambar lagi dan tinggi salju sudah mencapai setengah betis(ku)!

When it's started in the morning Maghrib time... still snowing

Musim dingin kali ini adalah kali ketiga untukku selama bermukim di US. Pertamakali "menikmati" winter 2 tahun lalu... persis tanggal 6 Desember 2005! Tapi tidak langsung sampai lebih 3 inches (kurang lebih 7.5 cm) kayak kemarin itu. Kalo dua tahun lalu saya menikmati salju pertama bersama Iman di balkon apartemen kami di Alexandria, kali ini saya dan Zahra menikmati salju dari balik jendela di ruang tengah di rumah kecil kami di kota Rockville (wish that Iman with us though...). It was just so beautiful! Subhanallaah...

Hey, mana saljunya, Bunda?Looking at the snow out the window

Sampe' hari ini saljunya masih bertahan dan sekeliling rumah dan our neighborhood kelihatan sangat cantik!

Halaman belakang rumah red berries covered with beautiful white snow

Dari beranda depan melihat ke samping Pohon Maple dan Pinus di samping rumah


Zahra's first snow 2007

Kesempatan yang bagus untuk memperkenalkan salah satu fenomena alam ini ke anakku. So, I took Zahra outside (of course, sebelumnya pake'kan dia jaket overall-nya) dan meletakkan segenggam salju ke tangan kecilnya... Ucap alhamdulillaah, anakku... kita mesti bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah menikmati salah satu keindahan alam ciptaan-Nya...

Ayah sibuk main salju, heheheSelesai itu, kami berdua masuk ke dalam rumah dan asyik memandangi salju yang bertumpuk dari balik jendela. Sementara itu, Ayah (kodooooooooooong) bersusah payah membersihkan si "Hitam" sebelum salju yang menutupinya mengeras dan menyekop salju di jalan masuk samping rumah (driveway). Sorry deh 'Yah... nanti kalo Zahra sudah besar, giliran Zahra yang 'nyekop salju... dan Ayah bisa menikmati kopi di dalam rumah... insya Allah *wink*.

Selamat datang, winter! Semoga damai dan rasa cinta kepada Sang Pencipta dapat menghangatkan hati dan jiwa kita di tengah musim dingin yang telah tiba... Aamiin!